BERITA TERKINI
PHRI Magelang Dorong Borobudur Menjadi Hub Bisnis Kuliner dan Pariwisata

PHRI Magelang Dorong Borobudur Menjadi Hub Bisnis Kuliner dan Pariwisata

Kawasan Borobudur didorong tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga berkembang menjadi hub bisnis kuliner dan pariwisata yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra dari berbagai daerah. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Magelang mendorong penguatan peran tersebut melalui kegiatan Culinary Challenge dan Tabletop.

Kegiatan yang digelar di Marga Utama Candi Borobudur pada Senin (31/8/2026) malam itu mempertemukan pelaku industri kuliner, hotel, restoran, pengelola destinasi, serta calon mitra bisnis. Sebanyak 22 peserta mengikuti Culinary Challenge. Sementara forum Tabletop diikuti 33 seller anggota PHRI Kabupaten dan Kota Magelang serta 51 buyer dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ketua PHRI Kabupaten Magelang Usep Syarifudin mengatakan dua kegiatan tersebut dirancang untuk memperkenalkan potensi kuliner lokal sekaligus menciptakan ruang pertemuan bisnis bagi pelaku industri pariwisata di kawasan Borobudur.

“Culinary Challenge menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan kuliner lokal, mendorong penggunaan bahan pangan daerah, serta memberikan ruang promosi bagi pelaku industri kuliner,” ujar Usep.

Menurutnya, Tabletop menjadi pelengkap karena forum tersebut mempertemukan pelaku usaha hotel, restoran, dan pengelola destinasi dengan calon wisatawan maupun mitra usaha. Dari pertemuan itu, terbuka peluang kerja sama, perluasan jaringan bisnis, hingga pengembangan paket wisata yang lebih menarik dan kompetitif.

PHRI Kabupaten Magelang menilai Borobudur memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata berkelanjutan. Daya tarik dunia yang dimiliki kawasan tersebut berpadu dengan nilai sejarah dan budaya yang dapat dikembangkan menjadi produk wisata serta kuliner.

Usep menyebut penyelenggaraan Culinary Challenge dan Tabletop memiliki sejumlah sasaran, antara lain meningkatkan daya tarik dan kunjungan wisata ke Borobudur sekaligus mempertemukan pelaku industri pariwisata dalam forum bisnis. Kegiatan itu juga diarahkan untuk meningkatkan tingkat hunian kamar dan kualitas wisata kuliner, serta mendorong dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan pelaku usaha di sekitar Borobudur dan Kabupaten Magelang.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Magelang. Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai kolaborasi Culinary Challenge dan Tabletop menjadi langkah konkret untuk memperkuat ekosistem pariwisata di kawasan Borobudur.

“Ini luar biasa. Atas nama Pemerintah Daerah, kami berkomitmen untuk senantiasa mendukung setiap kolaborasi yang bermuara pada penguatan ekonomi masyarakat,” kata Grengseng.

Ia menegaskan Borobudur bukan hanya kebanggaan Kabupaten Magelang, melainkan juga bagian penting dari pariwisata Indonesia. Karena itu, pengembangan kawasan tersebut dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

“Borobudur ini milik kita semua. Bukan hanya milik Kabupaten Magelang, bukan hanya milik PHRI Kabupaten Magelang, tetapi milik kita semua yang mestinya memberikan manfaat untuk kita semua,” ujarnya.

Grengseng juga mengajak pelaku usaha pariwisata, PHRI, ASITA, pengelola destinasi, hingga masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan Borobudur sebagai penggerak pariwisata sekaligus ekonomi. Pemerintah Kabupaten Magelang menyambut rencana menjadikan Culinary Challenge dan Tabletop sebagai agenda tahunan di kawasan Borobudur serta menyatakan siap memberikan dukungan dan memfasilitasi kegiatan tersebut.

“Kalau event seperti ini mau dilakukan tahunan, kami atas nama pemerintah support 100 persen. Kalau dilakukan di wilayah Borobudur, insya Allah saya siap memfasilitasi,” kata Grengseng.

Untuk mendukung rencana itu, pemerintah daerah akan berkomunikasi dengan pengelola Taman Wisata Borobudur (TWB) terkait penggunaan lokasi apabila kegiatan tersebut ditetapkan sebagai agenda tahunan. Grengseng menilai konsistensi penyelenggaraan kegiatan seperti Culinary Challenge dan Tabletop diperlukan untuk menciptakan ruang pertemuan bisnis secara berkelanjutan, sekaligus menjadi sarana promosi kuliner dan penguatan jejaring antar-pelaku industri pariwisata.

“Marilah kita buat momentum Borobudur ini menjadi momentum kebangkitan pariwisata nasional, khususnya di Jawa Tengah,” ujarnya.