BLITAR — Di balik seporsi makanan bergizi yang diterima ribuan pelajar setiap pagi, ada kerja yang berlangsung jauh sebelum makanan dibagikan. Di Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Kandangan, Kecamatan Srengat, Blitar, salah satu peran penting dijalankan Bahrul Ulum, petugas pemeriksa kelayakan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bahrul bertugas memastikan setiap bahan yang masuk benar-benar layak santap dan sesuai standar. Menurutnya, MBG bukan sekadar bantuan pangan, melainkan program yang dampaknya dirasakan langsung oleh anak-anak, terutama dalam pemenuhan gizi. “Dampaknya nyata sekali bagi anak-anak. Terutama dari sisi gizi yang semakin tercukupi,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Ia menjelaskan, standar bahan baku di dapur tempatnya bertugas diterapkan dengan ketat. Susu UHT, misalnya, harus menggunakan merek tertentu. Sementara itu, ayam potong wajib datang dalam kondisi benar-benar segar.
Ketentuan tersebut juga berpengaruh pada alur kerja. Bahrul menuturkan, bila ayam datang pada malam hari, bahan harus segera diolah tanpa menunggu. “Kalau ayam datang jam sembilan malam, ya harus langsung diolah saat itu juga. Tidak boleh menunggu,” katanya.
Rutinitas di dapur, lanjut Bahrul, tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami situasi ketika persediaan bahan tiba-tiba habis menjelang tengah malam. Dalam kondisi seperti itu, petugas harus segera mencari bahan pengganti agar menu keesokan hari tetap sesuai standar. “Mau tidak mau harus segera ke pasar. Sudah biasa berangkat dini hari hanya demi memastikan menu besok tetap sesuai standar,” tuturnya.
Di sisi lain, Bahrul mengaku semangat para penerima manfaat menjadi bagian yang paling berkesan. Ia kerap melihat antusiasme anak-anak sekolah yang menunggu kedatangan MBG dan penasaran dengan menu hari itu. “Setiap MBG datang, mereka sudah menunggu. Penasaran sekali ingin tahu menunya,” katanya.
Meski begitu, ia menyebut petugas tidak diperbolehkan membocorkan menu harian kepada siswa. “Kadang mereka merayu, tapi tetap tidak boleh,” ujarnya.
Terkait pengadaan bahan, Bahrul menegaskan pihaknya mengikuti harga pasar. “Kami tidak pernah bermain harga. Semua mengikuti harga pasar. Bagi kami ini soal membantu perputaran ekonomi warga,” katanya.

