BERITA TERKINI
Pertama Kali Mencoba Gulai Tunjang di Warung Nasi Padang, Perantau Asal Jawa Mengaku Kaget dengan Rasanya

Pertama Kali Mencoba Gulai Tunjang di Warung Nasi Padang, Perantau Asal Jawa Mengaku Kaget dengan Rasanya

Seorang perantau asal Jawa yang baru dua tahun terakhir akrab dengan nasi padang mengisahkan pengalamannya saat pertama kali mencoba gulai tunjang. Menu yang semula dianggap “aneh” dari tampilan justru membuatnya terkejut setelah gigitan pertama.

Ia bercerita, sebelum pindah kerja ke Yogyakarta, dirinya sudah lama mengetahui keberadaan warung nasi padang sejak masa kuliah hingga bekerja di Surabaya pada 2017–2023. Namun, nasi padang tidak pernah masuk daftar makan hariannya karena khawatir tidak cocok dengan selera Sumatera dan takut menyesal soal harga.

Baru setelah bekerja di Yogyakarta, ia mulai rutin menyantap nasi padang, terutama karena kerap menjadi menu makan siang kantor. Dari situ, ia merasa bisa memahami perdebatan yang sering muncul tentang nasi padang, termasuk porsi nasi bungkus yang besar. Ia juga membandingkan sensasi makan dengan sendok dan tangan, dan menyimpulkan makan dengan tangan terasa lebih nikmat karena bisa mengambil nasi dalam kepalan besar sekaligus menikmati sisa bumbu di jari.

Meski mulai terbiasa, pilihan lauknya di kantor masih terbatas, seperti telur dadar, perkedel, ayam bakar, dan sesekali rendang. Ia mengakui menyukai rendang, tetapi merasa porsinya kerap tidak seimbang dengan nasi yang melimpah karena lauknya cepat habis dalam beberapa gigitan. Karena itu, ia mulai mencari lauk yang menurutnya lebih “sepadan” dengan porsi nasi.

Di tengah eksplorasi menu yang terbatas itu, istrinya menyarankan satu lauk yang disebut sebagai favoritnya: gulai tunjang. Bagi penulis, yang mengaku berasal dari desa dan baru belakangan mengenal ragam menu nasi padang, tampilan tunjang terlihat kenyal dan membuatnya ragu. Meski demikian, ia mengaku mulai tergugah setelah melihat video orang-orang menikmati tunjang dengan baluran kuah gulai kuning kental.

Kesempatan mencicipi gulai tunjang akhirnya datang pada Januari 2026, saat ia menjalani penugasan kerja di Jakarta. Di food court Istora Senayan, ia dan rekannya mampir ke sebuah stan warung makan padang. Rekannya tertarik dengan jengkol sambal hijau, sementara ia semula berniat memesan menu yang dianggap aman seperti rendang atau ayam bakar.

Namun, ketika melihat tunjang yang tersusun di etalase, ia memutuskan untuk mencoba. Di piring, sepotong tunjang dengan tekstur kenyal dan kuah gulai kuning pekat justru sempat membuatnya kembali ragu. Untuk berjaga-jaga, ia tetap memesan telur dadar sebagai lauk tambahan.

Keraguan itu berubah setelah gigitan pertama. Ia menggambarkan reaksinya sebagai kaget: lidah “menjerit” dan mata terbelalak karena rasa gulai tunjang yang ternyata sangat cocok. Ia lalu menghabiskannya dengan lahap, menikmati tekstur kenyal dan bumbu gulai yang menurutnya gurih.

Seusai makan, ia mengaku menyesal sempat meragukan rekomendasi istrinya hanya karena tampilan gulai tunjang yang dianggap tidak biasa. Saat menceritakan pengalaman itu lewat panggilan video, istrinya merespons singkat, seolah menegaskan bahwa ia sudah memperkirakan hasilnya. Sejak pengalaman pada Januari 2026 itu, ia menyebut gulai tunjang menjadi salah satu alasan utama dirinya kembali mendatangi warung nasi padang, terutama ketika teringat tekstur lembut-kenyal dan kuah gulai kuning yang kental.