BERITA TERKINI
Persaingan Kuliner Jepang dan Korea di Surabaya: Tren, Selera, dan Strategi Harga

Persaingan Kuliner Jepang dan Korea di Surabaya: Tren, Selera, dan Strategi Harga

Persaingan bisnis kuliner lintas negara di Surabaya kian kompetitif. Di antara yang paling menonjol, kuliner Jepang dan Korea sama-sama berebut perhatian konsumen, terutama kalangan muda, seiring kuatnya pengaruh budaya pop Asia dan menjamurnya pilihan makanan di pusat perbelanjaan.

Di tengah popularitas Korean Wave yang sempat mendorong makanan Korea menjadi pilihan anak muda, kuliner Jepang dinilai memiliki daya tahan pasar yang lebih konsisten. Menu seperti ramen dan sushi terus bermunculan serta mempertahankan eksistensinya di sejumlah mal di Surabaya. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku industri food and beverage (F&B), baik pemain baru maupun merek yang telah lebih dulu masuk pasar.

Salah satu yang menangkap peluang tersebut adalah Haraku Ramen. Setelah membuka gerai keempat di kawasan Surabaya Raya, merek ini memperkuat penetrasi pasar dengan menyasar konsumen muda, khususnya kelompok yang baru memasuki dunia kerja dan tengah membangun karier. Haraku Ramen menawarkan ramen dengan harga di bawah Rp50 ribu, dengan klaim tetap mengedepankan kualitas rasa.

Assistant Marketing Manager Haraku Ramen, Samuel Jozephus Remiasa, menilai kuliner Jepang memiliki basis pasar yang kuat di Surabaya. Ia menyebut makanan Jepang menjadi salah satu kategori F&B yang dominan di pusat perbelanjaan. “Japanese food di Surabaya dari dulu sampai sekarang trennya tetap sama. Kalau orang ke mal, makanan Jepang masih menjadi top of mind,” ujar Samuel, Rabu (9/9/2026).

Menurut Samuel, salah satu faktor yang membuat makanan Jepang mudah diterima adalah karakter rasanya yang dinilai sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia, termasuk di Surabaya. Ia menyoroti perpaduan cita rasa gurih dan pedas, serta penggunaan sumber karbohidrat seperti mi yang dianggap dekat dengan pola makan lokal. Untuk memperluas pilihan, Haraku Ramen juga mengembangkan menu berbasis nasi bernama Raishi.

“Lidahnya juga cocok dengan orang-orang Indonesia, terutama Surabaya. Dengan kegurihan dan rasa pedasnya itu sangat cocok,” kata Samuel.

Dalam strategi pemasarannya, Haraku Ramen mengerucutkan target pasar pada konsumen berusia 25–35 tahun. Segmen ini mencakup fresh graduate, pekerja yang baru memulai karier, hingga pengusaha muda yang merintis usaha. Penentuan target tersebut turut memengaruhi penyesuaian harga dan program promosi.

Selain menjual ramen di bawah Rp50 ribu, Haraku Ramen menyediakan promo pada Senin hingga Jumat pukul 14.00–17.00 WIB berupa ramen seharga Rp25 ribu yang dilengkapi free flow ocha. “Kalau dikerucutkan lagi, target market Haraku Ramen antara 25 sampai 35 tahun. Orang-orang yang baru fresh graduate, baru kerja, sampai orang yang baru merintis usaha,” ujar Samuel.

Samuel juga menilai terdapat perbedaan daya tahan antara tren kuliner Jepang dan Korea di Surabaya. Menurutnya, makanan Korea sempat meningkat pesat seiring euforia Korean Wave, namun setelah gelombang tersebut mereda, tren makanan Korea dinilai tidak setinggi sebelumnya. Sementara itu, kuliner Jepang dianggap tetap bertumbuh secara konsisten.

“Kalau kita bandingkan dengan Korean food, kita bisa merasakan ada penurunan tren dari K-Wave yang sempat booming sangat kencang. Kalau Japanese food sendiri, pertumbuhannya selalu ada dan tetap konsisten,” jelasnya.

Meski begitu, Samuel menilai persaingan kedua kuliner tersebut tidak sepenuhnya menentukan penguasaan pasar karena pilihan konsumen tetap bergantung pada karakter dan preferensi rasa masing-masing. Ia juga menyoroti bahwa kuliner Jepang memiliki keunggulan dari sisi penetrasi pasar karena telah lebih lama dikenal masyarakat Indonesia.

Samuel menambahkan, salah satu faktor penerimaan yang kuat adalah kemampuan kuliner Jepang beradaptasi dengan selera lokal. Ramen, misalnya, dapat dipadukan dengan sambal bercita rasa Indonesia. Ia juga mencontohkan konsep agemono atau makanan goreng dalam kuliner Jepang yang dinilai dekat dengan kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia.

“Japanese food itu cita rasanya sudah lama melekat sebagai orang Indonesia. Apalagi ramen di-fusion dengan khasnya orang Indonesia, masuk banget,” katanya.

Ia menilai kebiasaan masyarakat yang akrab dengan gorengan—mulai dari pisang goreng hingga tahu isi—membuat konsep agemono lebih mudah diterima. “Jepang punya agemono, seperti gorengan. Orang Indonesia makan gorengan pagi, siang, malam. Ketika di-infuse ke Japanese food, sangat masuk,” ujar Samuel.

Dengan karakter tersebut, Haraku Ramen memandang pasar kuliner Jepang di Surabaya masih memiliki ruang untuk tumbuh. Namun, di tengah persaingan dengan kuliner Korea yang sempat mendominasi tren anak muda, persaingan industri F&B di Surabaya dinilai semakin bergeser pada kemampuan pelaku usaha membaca kebutuhan konsumen—mulai dari harga, pengalaman bersantap, lokasi, hingga perubahan perilaku konsumen.