Kuliner khas Palembang mulai menemukan pasar baru di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Kehadiran usaha rumahan Pempek MamJenn menunjukkan makanan tradisional Nusantara masih memiliki peluang bisnis, termasuk di daerah yang sebelumnya belum akrab dengan pempek.
Pemilik Pempek MamJenn, Mega Andini, menuturkan usaha ini berawal dari pengalaman pribadinya setelah pindah dari Lampung ke Ende sekitar setahun lalu. Karena kesulitan menemukan pempek di Ende, ia memutuskan membuatnya sendiri dan mulai menawarkan kepada masyarakat.
Respons positif dari rekan kerja suaminya menjadi titik awal berkembangnya usaha tersebut. Seiring waktu, Pempek MamJenn kini mampu melayani pelanggan setiap hari. Mega menilai peluang bisnis pempek di Ende masih terbuka lebar karena jumlah pelaku usaha yang menjual makanan khas Palembang di wilayah itu masih terbatas.
Menurutnya, kondisi ini menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk menghadirkan pilihan kuliner baru sekaligus memperkaya ragam makanan Nusantara yang tersedia bagi masyarakat. Namun, tantangan utama justru terletak pada ketersediaan bahan baku.
Ikan tenggiri yang lazim digunakan sebagai bahan utama pempek disebut sulit diperoleh di Ende dan harganya relatif tinggi. Untuk menjaga kualitas sekaligus memastikan produksi tetap berjalan, Mega berinovasi menggunakan ikan tuna lokal yang dinilai memiliki tekstur dan cita rasa mendekati pempek khas Palembang.
Inovasi tersebut membuat Pempek MamJenn mampu memproduksi sekitar 150 hingga 200 potong pempek per hari. Produk dipasarkan melalui WhatsApp dan Facebook dengan sistem pesan antar, sehingga menjangkau konsumen di berbagai wilayah Kota Ende.
Sejumlah pelanggan bahkan membawa pempek tersebut sebagai oleh-oleh ke Kupang, Ruteng, hingga Labuan Bajo. Mega menilai keberhasilan usaha kuliner tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga kemampuan mendengarkan masukan pelanggan.
Salah satu hal yang terus dievaluasi ialah tingkat kepedasan cuko agar dapat diterima konsumen dengan selera yang beragam. Ke depan, Mega menargetkan membuka kedai Pempek MamJenn serta mengikuti berbagai festival kuliner untuk memperluas pasar.
Ia juga mengajak generasi muda memanfaatkan kekayaan kuliner Nusantara sebagai peluang usaha. Menurutnya, makanan tradisional memiliki cita rasa autentik dan tetap dapat bersaing dengan tren kuliner modern jika dikemas secara kreatif serta konsisten menjaga kualitas.

