Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember memastikan rencana pembangunan Food Street terus dimatangkan sebagai upaya menghadirkan titik pertumbuhan ekonomi baru, khususnya pada malam hari. Rencana tersebut disampaikan Bupati Jember Muhammad Fawait usai kegiatan Sholawat Kampoeng bertajuk Gus’e Menyapa di Balai Desa Nogosari, Rambipuji, Minggu (7/12/2025).
Fawait menyebut Food Street atau pusat kuliner malam tidak dirancang sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan ruang ekonomi modern yang diharapkan dapat menggerakkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus menambah daya tarik wisata malam di Jember.
“Saya pikir Food Street adalah salah satu solusi untuk memunculkan pusat keramaian baru, pusat pertumbuhan ekonomi, dan pengembangan UMKM,” kata Fawait.
Ia juga menegaskan konsep tersebut telah dikomunikasikan dengan berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan perwakilan gereja di sekitar lokasi rencana Food Street. Menurutnya, tidak ada potensi masalah berarti selama tata kelola berjalan sesuai rencana. “Kami sudah komunikasi dengan semua pihak. InsyaAllah tidak ada hal yang membahayakan atau menyulitkan,” ujarnya.
Food Street direncanakan beroperasi khusus pada malam hari, meniru pola kawasan wisata kuliner di sejumlah kota besar. Fawait menyebut kawasan itu diharapkan menjadi identitas baru wisata malam di Jember. “Kalau Surabaya punya Kota Lama, Malang ada Kayu Tangan, Jogja punya Malioboro, maka nanti Jember akan punya Food Street,” katanya.
Dalam pemaparan awal, area pengembangan disebut membentang dari Stasiun Jember menuju Pendopo Wahyawibawagraha, dilanjutkan ke Jalan Kartini, dan ditargetkan dapat menjangkau kawasan Matahari. Ruas jalan tersebut dipilih karena dinilai potensial menjadi koridor wisata malam.
Jika konsep ini berjalan lancar, Pemkab Jember juga mempertimbangkan pengembangan Food Street di titik lain, termasuk kawasan yang selama ini kerap mengalami kepadatan lalu lintas. “Kalau berhasil nanti, bukan hanya daerah sana. Di tempat-tempat yang sering macet juga bisa dipikirkan,” kata Fawait.
Sementara itu, Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum Dinas Cipta Karya Jember Rudi Rahmawan menyampaikan proyek ini difokuskan di sekitar Alun-Alun Jember, meliputi Jalan Kartini, Gatot Subroto, dan Diponegoro. Pembangunan tahap awal akan menghubungkan area sekitar Pemkab Jember hingga perempatan Polres, lalu bertahap terkoneksi dengan kawasan pertokoan lama seperti Matahari dan Pasar Tanjung.
“Harapannya, kawasan ini bisa menjadi ikon wisata malam baru sekaligus mendistribusikan keramaian agar tidak hanya terpusat di satu titik,” ujar Rudi, Sabtu (1/11/2025).
Konsep Jember Street Food mengedepankan tata ruang pedestrian yang ramah pengunjung. Jalur pejalan kaki di sisi timur Jalan Diponegoro direncanakan diperlebar hingga enam meter, sementara sisi barat menjadi tiga meter. Kawasan ini juga akan dilengkapi zona pedagang kaki lima (PKL) dan ruang makan terbuka, sebagian memanfaatkan trotoar dan sebagian lagi di ruas jalan yang akan digunakan khusus sore hingga malam hari.
Rudi menjelaskan, Dinas Cipta Karya berfokus pada pembangunan infrastruktur, sedangkan penataan PKL dan desain rombong akan dikelola Dinas Koperasi dan UMKM Jember. Ia menambahkan, desain awal menampilkan konsep rombong modern dan tertata, namun bentuk akhir masih akan disesuaikan melalui koordinasi lintas dinas agar tetap fungsional dan seragam.
Tahun ini, proyek Jember Street Food mengantongi anggaran Rp2,9 miliar dan telah memasuki tahap finalisasi perencanaan. Setelah itu, proses akan dilanjutkan ke lelang melalui sistem mini kompetisi e-katalog konstruksi, dengan target pembangunan rampung pada akhir 2025.
“Kami optimistis pengerjaan bisa dimulai segera dan diselesaikan tepat waktu. Tapi kami juga realistis, jika waktu mepet dan tidak ada penyedia yang siap, maka akan disesuaikan kondisi di lapangan,” kata Rudi.
Ke depan, Pemkab Jember juga merencanakan perluasan kawasan street food hingga ke Jalan Wijaya Kusuma menuju Stasiun Jember.

