Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI Hariqo Wibawa Satria menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mendorong perubahan budaya makan dan hidup sehat di masyarakat sebagai bagian dari upaya menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam siniar bersama ANTARA di Jakarta, Kamis, Hariqo mengatakan MBG diproyeksikan menjadi fondasi untuk membangun “budaya peradaban baru” yang mendukung target 2045, yakni anak-anak Indonesia memiliki pendapatan tinggi, tubuh sehat, kecerdasan baik, akhlak yang baik, serta mampu bersaing secara global.
Ia menilai meningkatnya percakapan mengenai gizi di media sosial menunjukkan bertambahnya kesadaran publik terhadap pentingnya kualitas asupan harian. Menurutnya, meski terdapat kritik terhadap MBG, termasuk isu “makanan beracun gratis” maupun potensi korupsi, perbincangan masyarakat yang mulai menyinggung gizi dan protein tetap menjadi hal positif karena menandakan edukasi mengenai gizi seimbang mulai masuk ke ruang-ruang percakapan sehari-hari.
Hariqo juga menyebut MBG, Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta program prioritas lain seperti Sekolah Rakyat sebagai rangkaian kebijakan yang diarahkan untuk membangun peradaban yang lebih berkualitas. Ia menegaskan program-program tersebut diposisikan sebagai program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto karena dinilai bersifat mendasar dan tidak sekadar membagikan makanan.
Ia memaparkan sejumlah data terkait kondisi pola makan dan kesehatan masyarakat. Menurutnya, lebih dari 96 persen masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah, 66 persen anak memiliki pola makan yang buruk, 65 persen anak tidak sarapan sebelum berangkat sekolah, dan 32 persen remaja putri mengalami anemia. Selain itu, ia menyebut 21 persen balita mengalami stunting.
Hariqo juga menyampaikan bahwa sebelum Prabowo menjabat sebagai presiden, setiap hari lebih dari 2.000 orang meninggal dunia akibat penyakit tuberkulosis dan kardiovaskular.
Atas dasar itu, ia mengatakan MBG dihadirkan untuk meningkatkan kualitas gizi anak bangsa. Hingga saat ini, program tersebut disebut telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat melalui 24.204 SPPG.

