Pelaku UMKM, kelompok tani, dan masyarakat adat dari berbagai daerah memadati halaman Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, dalam gelaran Pasar Rakyat Pangan Lokal. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara dan berlangsung hingga Minggu (19/10/2025).
Acara tersebut menampilkan kekayaan pangan Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Pengunjung dapat menemukan beragam produk hasil bumi, olahan tradisional, hingga inovasi pangan baru yang dikembangkan komunitas masyarakat adat, petani, serta pelaku usaha sosial berbasis bahan lokal.
Sejumlah stan datang dari berbagai daerah dan jejaring penggerak pangan lokal, antara lain Parara, Sapo Dite, Kampung Adat Wogo, Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, Teras Mitra, serta Koalisi Sistem Pangan Lestari. Hadir pula UMKM binaan Badan Pangan Nasional seperti Risiris, Kukimo, dan Pawon Narasa, LPTP Surakarta (Kampung Krowot), Lestari Mandiri Boyolali, Sanggar Rojolele, Argo Inten Bukit Menoreh, hingga UMKM binaan Kementerian Kelautan dan Perikanan seperti Fisnack dan Sagolicious.
Setiap stan menampilkan bahan pangan khas daerah masing-masing dengan cara pengolahan yang beragam. Ragam yang dipamerkan mencakup pangan laut, rempah, hingga olahan singkong. Keseluruhan produk dirancang untuk menunjukkan bahwa pangan lokal dapat dikembangkan secara modern tanpa kehilangan identitasnya.
Salah satu peserta, Endah dari Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat, menampilkan beragam olahan singkong yang menjadi ciri khas kampungnya. Ia menjelaskan seluruh bagian tanaman singkong dimanfaatkan agar tidak ada yang terbuang, mulai dari daun hingga kulitnya.
“Kebetulan kampung adat ini lebih dikenal dari pangannya, di mana kita mengonsumsi singkong [sebagai sumber karbohidrat utama, red.], semua olahan dari singkong semua. Semua bagian dari singkong tidak terbuang, daunnya sebagai lalapan, terus sebagai sayur juga, batangnya kita jadikan bibit lag, singkongnya sendiri, bahkan kulitnya sudah jelas jadi produk-produk ini,” kata Endah, Rabu (15/10/2025).
Dari dapur Kampung Adat Cireundeu, sejumlah produk yang diperkenalkan antara lain rasi (beras singkong), egg roll singkong, hingga dendeng kulit singkong. Endah mengatakan seluruh produk dibuat tanpa tepung terigu dan hanya menggunakan hasil olahan singkong.
“Ini juga bisa dijadikan egg roll atau semprong, tapi kita jadikan egg roll, ini modifikasi, terus ini pun bukan dari terigu tapi dari tepung rasi tersebut,” ujarnya sambil menunjukkan tepung rasi yang sudah dikemas.
Dari Jakarta Utara, Neneng Kurniawati dari Kelompok Tani Kampung Bayam Madani membawa hasil panen kebun kota yang berada di area berdampingan dengan Jakarta International Stadium. Di lahan terbatas, mereka menanam sayur organik seperti bayam, kangkung, dan kacang panjang.
“Walaupun lahannya kecil, kita manfaatkan bisa banyak yang kita tanam, kayak tomat, cabai, kacang panjang, kangkung, bayam, dan sebagainya. Kami ingin pemerintah terus mendukung supaya pertanian ini jangan dihilangkan, karena sumber penghasilan kami itu dari bertani,” kata Neneng, Rabu (16/10/2025).
Menurut Neneng, sebagian hasil panen juga diolah menjadi produk seperti keripik bayam dan camilan sehat lainnya. Bagi kelompok tani tersebut, pertanian kota tidak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga cara mempertahankan ruang hidup di Jakarta.
“Sudah lama (jadi petani, dari) orang tua saya sudah jadi petani, tahun 1970an di sini. Kalau kangkung dan bayam itu gak lama panennya, 24 hari sudah bisa panen dan bisa menghasilkan satu-dua kwintal,” ujar Neneng.

