BERITA TERKINI
Panduan Menikmati Street Food di Jepang seperti Warga Lokal

Panduan Menikmati Street Food di Jepang seperti Warga Lokal

Berwisata ke Jepang kerap identik dengan agenda kuliner. Beragam street food—mulai dari gyoza, udon, okonomiyaki, sushi, ramen, hingga takoyaki—memang sudah dikenal luas, termasuk di Indonesia. Namun, mencicipinya langsung di negara asal memberi pengalaman berbeda, terutama jika dilakukan dengan kebiasaan yang lazim diikuti warga setempat.

Berikut sejumlah cara menikmati street food di Jepang seperti warga lokal, mulai dari etika dasar hingga rekomendasi area berburu kuliner.

1. Mengantre dengan tertib
Di Jepang, antrean panjang di tempat makan populer merupakan pemandangan umum. Meski mengular, pelanggan biasanya tetap mengantre rapi. Dalam beberapa kasus, ada karyawan yang menyusuri barisan sambil membawa papan klip untuk mencatat jumlah tamu.

Di banyak restoran, pengunjung juga dapat melihat replika makanan yang dipajang untuk menunjukkan menu. Replika ini dikenal sebagai sampuru atau shokuhin sampuru (sampel), umumnya dibuat dari lilin, plastik, atau resin, dan berfungsi membantu pelanggan membayangkan hidangan yang tersedia.

2. Mencicipi B-kyu gurume
Salah satu cara merasakan kebiasaan makan sehari-hari masyarakat Jepang adalah mencoba B-kyu gurume, istilah untuk kuliner kelas B yang merujuk pada makanan lokal yang murah, populer, dan lazim disantap harian. Contohnya antara lain udon, ramen, gyoza, yakisoba, dan yakitori.

Istilah ini disebut dibuat oleh penulis makanan Tokyo, Ryuji Takazawa, pada 1980-an. Dalam perkembangannya, B-kyu gurume juga kerap dikaitkan dengan sejumlah yoshoku, yakni makanan asal Barat yang telah lama menjadi bagian dari ciri khas kuliner Jepang. Hidangan semacam ini biasanya dijumpai di restoran kecil maupun jaringan restoran khusus, dan bagi sebagian warga lokal bisa memunculkan nostalgia tentang kampung halaman atau masa kecil.

Bagi pelancong yang bingung mencari lokasi, tersedia sejumlah panduan di situs seperti Tabelog, Hot Pepper Gourmet, Gurunavi, dan Retty.

3. Rekomendasi street food yang bisa dicoba
Pilihan street food di Jepang sangat beragam. Beberapa menu yang dapat dipertimbangkan sesuai selera antara lain:

- Oni himokawa udon, udon lebar dari Gunma dengan kuah saus wijen.
- Tsukemen dan sup wonton, mi celup dengan pangsit buatan tangan.
- Katsu curry, daging goreng tepung yang disajikan dengan saus kari dan nasi.
- Egg sando, sandwich telur ala Jepang dengan roti susu yang lembut.
- Spageti napolitan, pasta bergaya Jepang dengan saus tomat, sosis, dan paprika.
- Monjayaki, panekuk khas Tokyo dari adonan tepung encer dengan isian sayuran, daging, atau seafood yang dimasak di atas pelat besi (teppan).

4. Menjelajahi area yang dikenal sebagai pusat street food
Untuk merasakan kuliner yang lebih autentik, pelancong dapat mengunjungi kawasan yang memang terkenal dengan street food. Asakusa, misalnya, dikenal sebagai lokasi berburu jajanan sekaligus menikmati suasana pusat kota kuno, termasuk Kuil Sensoji dan Nakamise-dori. Sementara untuk pilihan seafood, Pasar Tsukiji dan Toyosu kerap menjadi tujuan.

Jika kawasan tersebut terasa terlalu ramai, pasar lokal bisa menjadi alternatif. Beberapa pasar yang disebut menawarkan beragam street food antara lain Pasar Nishiki dan Kuromon. Di lokasi semacam ini, pengunjung dapat menemukan pilihan camilan gurih hingga manis, seperti crepes, kakigori, dan imagawayaki.

Selain pasar, opsi lain adalah izakaya, depa-chika (area makanan di basement department store), dan minimarket. Ada pula kedai makanan luar ruangan atau yatai yang sering menjual takoyaki, okonomiyaki, dan yakisoba, serta gerobak makanan yang mudah dijumpai saat berkeliling kota.

5. Menerapkan kebiasaan sederhana saat makan
Pengalaman menikmati street food di Jepang juga dipengaruhi etika makan. Kebiasaan yang umum antara lain mengantre rapi dan tidak menunda saat giliran tiba, memesan dengan jelas, serta segera berpindah setelah selesai agar tempat duduk dapat digunakan orang lain.

Sejumlah ungkapan juga lazim dipakai, seperti “itadakimasu” sebelum makan dan “gochisousama deshita” setelah selesai sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih. Peralatan makan pun biasanya diletakkan kembali dengan rapi. Hal lain yang perlu diperhatikan, sebagian tempat melarang pengunjung makan dan minum sambil berjalan, meski yang disantap adalah street food.

Pada akhirnya, street food bagi warga lokal bukan hanya soal rasa dan ragam menu, tetapi juga pengalaman yang bisa memunculkan nostalgia. Bagi wisatawan, mematuhi kebiasaan dan aturan tidak tertulis saat makan dapat membantu menikmati kuliner Jepang dengan cara yang lebih selaras dengan budaya setempat.