Bulan Ramadhan menjadi momen penting bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa dengan menahan lapar dan haus sekitar 12 jam. Kondisi ini dapat menghadirkan tantangan kesehatan, sehingga pemilihan menu sahur dan berbuka yang tepat dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara ibadah dan kondisi tubuh.
Ahli gizi IPB University, Dr Eny Palupi, merekomendasikan pemanfaatan pangan lokal sebagai alternatif menu berbuka dan sahur yang sehat dan bergizi. Ia menilai pangan lokal memiliki potensi besar sebagai sumber gizi seimbang.
Berikut beberapa pilihan pangan lokal yang disarankan Dr Eny Palupi untuk membantu menjaga kesehatan selama puasa, termasuk dalam upaya mencegah risiko diabetes.
Umbi-umbian
Umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, dan talas dikenal kaya karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat. Karena itu, jenis pangan ini dapat memberi rasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga kestabilan gula darah.
Dr Eny menyebut umbi-umbian yang diolah dengan cara direbus atau dikukus memiliki manfaat utama, antara lain membantu mengontrol gula darah tetap stabil, meningkatkan sensitivitas insulin, serta menyediakan antioksidan yang dapat melindungi dari komplikasi. Sebagai catatan, konsumsi makanan dan minuman manis dengan kandungan gula tinggi dapat memengaruhi kestabilan gula darah dan meningkatkan risiko diabetes.
Kacang-kacangan
Selain umbi-umbian, kacang-kacangan juga disarankan sebagai menu pangan lokal untuk sahur maupun berbuka. Kacang-kacangan dinilai bermanfaat untuk memperbaiki jaringan tubuh dan menjaga pencernaan.
Kandungan lemak tak jenuh pada kacang-kacangan disebut dapat mendukung pertumbuhan sel dan melindungi organ, termasuk jantung. Di sisi lain, kandungan protein, serat, folat, vitamin E, dan antioksidan juga disebut baik untuk membantu mengontrol gula darah.
Buah-buahan lokal
Dr Eny juga menyoroti buah-buahan lokal seperti pisang, pepaya, rambutan, dan mangga sebagai sumber energi karena kandungan glukosanya yang mudah dicerna setelah seharian berpuasa.
Bagi penderita diabetes, ia menyebut beberapa buah lokal dengan indeks glikemik (IG) rendah yang dapat menjadi pilihan, seperti pepaya, alpukat, jambu biji, dan buah naga.
Selain nilai gizi, pangan lokal dinilai lebih segar dibanding sebagian produk impor yang memerlukan pengawetan untuk memperpanjang masa simpan. Dari sisi keberlanjutan, konsumsi pangan lokal juga disebut dapat mendukung perekonomian petani setempat. Dr Eny menegaskan, menyusun menu bergizi seimbang bukanlah hal yang sulit.

