Anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Yeka Hendra Fatika meminta agar junk food atau makanan minim gizi dengan kandungan kalori, lemak, dan gula tinggi tidak dimasukkan dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, penyediaan makanan jenis tersebut tidak sejalan dengan tujuan utama program yang menekankan pemenuhan gizi.
“Ini kan makan bergizi kan gitu ya, berarti kan unsur gizinya itu harus benar-benar dipenuhi,” ujar Yeka saat ditemui di Jakarta, Selasa.
Yeka meminta Badan Gizi Nasional (BGN) tidak lagi memperbolehkan sekolah menyediakan menu seperti sosis, burger, maupun chicken nugget dalam program MBG. Ia menilai, bila menu-menu tersebut diperlukan untuk variasi, solusinya dapat dilakukan melalui pengolahan mandiri menggunakan bahan-bahan yang memiliki nilai gizi tinggi.
“Kecuali kalau nugget-nya itu bikin sendiri, bukan merupakan ultra-processed food,” katanya.
Sebelumnya, BGN menyampaikan bahwa spageti dan hamburger termasuk menu yang muncul berdasarkan permintaan siswa. Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyang menjelaskan, menu tersebut menjadi salah satu cara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengatasi kejenuhan siswa yang bosan menjadikan nasi sebagai sumber karbohidrat.
“Mohon maaf ada yang mengkritik, 'Masa ada spageti? Masa ada burger diberikan, apa gizinya? Jadi itu, mohon maaf, itu tidak selalu. Jadi anak-anak SPPG ini punya kreativitas, kreativitas gini ayo, biar enggak bosan makan nasi,” kata Nanik dalam jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta, Jumat (26/9).
Nanik menambahkan, siswa diperbolehkan mengajukan permintaan menu MBG, namun hanya dapat dilakukan sekali dalam seminggu. Ia menegaskan, menu yang diminta siswa tersebut bukan menu harian.

