Banyak orang merasa sudah memilih pola makan sehat, mulai dari salad berbahan organik hingga ikan laut yang dikenal kaya omega-3. Namun, sejumlah temuan ilmiah menunjukkan adanya “tamu tak terlihat” yang bisa ikut masuk ke menu harian: mikroplastik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019 menyatakan mikroplastik telah ditemukan dalam air. Meski saat itu belum ada bukti kuat mengenai bahayanya bagi manusia, WHO menekankan perlunya penelitian lebih lanjut, terutama terkait partikel plastik berukuran nano yang berpotensi menembus dinding sel.
Secara umum, mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Partikel ini dapat terbentuk dari penguraian plastik berukuran besar atau diproduksi langsung dalam ukuran mikro. Karena ukurannya sangat kecil dan tidak mudah terurai, mikroplastik dapat menyebar luas di lingkungan dan berpeluang masuk ke rantai makanan—mulai dari garam dapur, air minum, hingga hasil laut.
Temuan mikroplastik pada bahan pangan dan minuman
Sejumlah penelitian yang dirujuk dalam naskah ini melaporkan mikroplastik pada berbagai produk konsumsi. Studi Karami dkk. (2017) menemukan mikroplastik pada 90% sampel garam komersial dari berbagai negara. Kajian tersebut juga menyebutkan rata-rata orang dapat mengonsumsi sekitar 1.000 partikel mikroplastik per tahun hanya dari garam.
Pada air minum dalam kemasan, Mason dkk. (2018) melaporkan rata-rata 325 partikel plastik per liter pada sampel air kemasan yang diteliti.
Kontaminasi juga dilaporkan pada makanan laut. Rochman dkk. (2015) menemukan sekitar sepertiga ikan yang ditangkap di Inggris mengandung plastik dalam saluran pencernaannya. Dalam konteks ini, makanan laut seperti ikan dan kerang sering disebut rentan terpapar karena perairan laut tercemar plastik dalam jumlah besar.
Sementara itu, Oliveri Conti dkk. (2020) mendeteksi partikel mikroplastik pada sejumlah produk hortikultura, termasuk tomat, apel, dan wortel.
Catatan dari kajian kimia lingkungan
Dalam perspektif kimia lingkungan, mikroplastik dinilai bukan sekadar partikel inert. Mikroplastik dapat menyerap, membawa, dan melepaskan senyawa tertentu, sehingga berpotensi bertindak sebagai kontaminan kompleks di lingkungan maupun di dalam tubuh.
Naskah ini menyebut beberapa potensi efek kimia yang dikaitkan dengan paparan mikroplastik, antara lain keterlibatan senyawa seperti BPA dan ftalat yang dikenal sebagai pengganggu hormon (endocrine disruptors). Selain itu, partikel plastik berukuran nano disebut berpotensi melewati membran usus dan masuk ke aliran darah atau otak. Dampak lain yang sering dibahas dalam kajian adalah kemungkinan stres oksidatif, peradangan, dan risiko kanker dalam jangka panjang—meski penelitian terkait masih terus berkembang.
Upaya mengurangi paparan
Karena kajian mengenai dampak kesehatan mikroplastik masih berlanjut, sejumlah langkah pencegahan yang disarankan dalam naskah ini berfokus pada pengurangan kontak dengan plastik, khususnya plastik sekali pakai. Di antaranya: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai; menggunakan tumbler dan tas belanja yang dapat dipakai ulang; menghindari sedotan, gelas, dan alat makan berbahan plastik; memilih wadah makanan dari bahan selain plastik; tidak memanaskan makanan dalam wadah plastik; serta mengurangi konsumsi produk yang dikemas plastik.
Berbagai temuan tersebut menunjukkan mikroplastik telah terdeteksi pada sejumlah komponen pangan dan minuman yang lazim dikonsumsi. Sementara bukti mengenai dampak kesehatan pada manusia masih memerlukan penguatan, perhatian terhadap sumber paparan dan upaya pengurangan penggunaan plastik menjadi salah satu langkah yang kerap disorot dalam diskusi ilmiah.

