Periode Mercury retrograde kerap kembali menjadi bahan perbincangan, terutama di media sosial, karena diyakini sebagian orang berkaitan dengan potensi miskomunikasi, penundaan, dan kesalahpahaman. Dalam sudut pandang esoteris, fase ini sering dipahami sebagai momen ketegangan energi yang mendorong orang mencari cara perlindungan diri dan pemurnian suasana.
Namun dari perspektif ilmiah, Mercury retrograde dipahami sebagai ilusi optik. Planet tampak bergerak “mundur” di orbitnya karena perbedaan kecepatan gerak relatif ketika Bumi dan Merkurius bergerak mengelilingi Matahari. Meski demikian, makna simbolik fenomena ini tetap kuat bagi banyak orang dan memengaruhi kebiasaan yang mereka lakukan selama periode tersebut.
Pada 2026, siklus pertama Mercury retrograde dijadwalkan berlangsung pada 26 Februari hingga 20 Maret, dengan durasi sekitar 23 hari. Rentang waktu yang berdekatan dengan awal tahun ini disebut turut meningkatkan minat pada praktik penyeimbangan energi yang dapat dilakukan di rumah, termasuk ritual sederhana menggunakan bahan alami yang mudah dijumpai di dapur.
Dalam kepercayaan populer, sejumlah praktisi menekankan bahwa unsur terpenting dari ritual perlindungan adalah niat orang yang melakukannya. Kondisi pikiran yang jernih, fokus pada tujuan, serta suasana yang tenang dan minim gangguan dianggap membantu proses yang diharapkan. Karena itu, bahan-bahan dapur dipilih bukan hanya karena mudah diakses, melainkan juga karena diyakini memiliki fungsi simbolik untuk menyerap, menetralisasi, atau menarik energi tertentu.
Berikut lima bahan dapur yang kerap disebut dalam ritual perlindungan selama Mercury retrograde.
1. Garam
Garam dikenal luas dalam berbagai tradisi sebagai elemen pemurni. Dalam praktik populer, garam dipercaya dapat menyerap dan menetralkan energi yang dianggap mengganggu. Cara yang sering dilakukan antara lain menaruh wadah kecil berisi garam kasar di sudut-sudut rumah—terutama area yang banyak dilalui—atau menambahkannya ke air untuk mandi yang dimaknai sebagai “pembersihan energi”.
2. Daun salam
Daun salam kerap dikaitkan dengan perlindungan, kesuksesan, dan kemenangan. Dalam konteks esoteris, bahan ini dipercaya membantu menangkal pengaruh yang tidak diinginkan sekaligus memperkuat intuisi. Salah satu praktik yang populer adalah menuliskan hal-hal yang ingin dihindari—misalnya konflik, kabar buruk, atau perasaan negatif—pada daun salam, lalu membakarnya dengan hati-hati sebagai simbol pelepasan energi yang tidak diinginkan.
3. Bawang putih
Selain dikenal sebagai bumbu dan bahan pengobatan tradisional, bawang putih dalam kepercayaan lama sering dipandang sebagai pelindung dari energi negatif seperti iri hati atau “mata jahat”. Praktik yang kerap dilakukan adalah menempatkan siung bawang putih yang belum dikupas di belakang pintu masuk rumah sebagai simbol penghalang. Setelah beberapa hari, bawang putih kemudian dibuang secara sadar—misalnya dengan menguburnya jauh dari rumah atau membuangnya ke air mengalir—sebagai lambang pembuangan energi yang diyakini telah diserap.
4. Kayu manis
Kayu manis, baik bubuk maupun batangan, banyak diasosiasikan dengan kemakmuran, harmoni, dan energi positif. Aromanya yang khas sering dipakai dalam ritual yang bertujuan memperbaiki suasana hati dan menarik kelimpahan. Dalam praktik yang disebutkan, kayu manis dapat dibakar sebagai bagian dari dupa buatan sendiri atau dicampur dengan bahan lain untuk menghasilkan asap aromatik yang dipercaya membantu menjernihkan ruangan. Cara lain adalah menaburkan sedikit kayu manis bubuk di pintu masuk atau kusen pintu sebagai simbol “mengundang” energi baik dan kemakmuran.
5. Lemon
Lemon dikenal luas sebagai simbol pembaruan dan pembersihan. Kesegaran dan keasamannya sering dikaitkan dengan upaya mengurangi energi yang dianggap padat serta membuka awal yang baru. Dalam praktik energik, lemon dapat dipotong menjadi empat bagian lalu diletakkan dalam wadah berisi garam, atau ditancapi cengkeh pada bagian ampasnya. Setelah beberapa hari, lemon dibuang ke luar rumah sebagai simbol penghapusan muatan negatif yang diyakini telah diserap.
Terlepas dari perbedaan cara pandang terhadap Mercury retrograde, periode ini terus memunculkan diskusi tentang upaya menjaga ketenangan dan mengelola situasi yang dinilai rentan memicu salah paham. Bagi mereka yang menjalankan ritual, bahan-bahan dapur tersebut dianggap menawarkan cara sederhana dan mudah dijangkau untuk membangun rasa aman dan keseimbangan selama 26 Februari hingga 20 Maret 2026.

