BERITA TERKINI
Menu MBG Saat Ramadan 2026 Jadi Makanan Kering, Celios Soroti Potensi Penurunan Gizi

Menu MBG Saat Ramadan 2026 Jadi Makanan Kering, Celios Soroti Potensi Penurunan Gizi

Perubahan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 2026 menjadi makanan kering menuai kritik dari Center of Economic and Law Studies (Celios). Kritik tersebut menyoroti potensi penurunan kualitas gizi serta dampaknya terhadap tujuan utama program.

Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menilai penggantian menu MBG saat Ramadan menjadi makanan kering berisiko mengurangi nilai gizi yang seharusnya diterima anak-anak penerima manfaat. Ia juga menilai perubahan itu dapat menggeser tujuan awal program yang salah satunya untuk mengenalkan makanan nyata (real food) kepada peserta didik.

Menurut Huda, pemerintah, khususnya Badan Gizi Nasional (BGN), dinilai terlalu berorientasi pada target pelaksanaan program sehingga kurang mempertimbangkan kondisi di lapangan. Ia menyebut makanan kering seperti kurma, telur rebus, telur asin atau pindang, buah, susu, dan abon belum tentu memenuhi standar gizi yang diharapkan dalam program MBG.

Selain aspek gizi, Huda menduga terdapat pertimbangan ekonomi dari pihak penyedia Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membuat program tetap berjalan meski manfaat gizinya dinilai berkurang.

Ia juga mengingatkan potensi tekanan pada harga pangan, terutama telur ayam dan daging ayam, yang lazim mengalami kenaikan saat Ramadan dan Lebaran. Dengan kebutuhan besar untuk MBG, ia menilai masyarakat dapat bersaing memperoleh bahan pangan yang sama.

Sebelumnya, BGN memastikan Program MBG pada Ramadan 2026 tetap berjalan dengan penyesuaian jadwal dan menu. Anak sekolah muslim akan menerima makanan kering untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa. Sementara sekolah non-muslim, balita, dan ibu hamil tetap menerima MBG seperti biasa. Adapun pondok pesantren menyesuaikan waktu distribusi menjadi sore hari menjelang berbuka.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan pelaksanaan program MBG berdampak signifikan terhadap peningkatan kebutuhan bahan pangan, mulai dari telur, buah-buahan, hingga komoditas perikanan dan pakan ternak.

Dadan memaparkan skala kebutuhan pangan dalam satu SPPG yang disebutnya sangat besar. Untuk menu pisang, satu kali distribusi membutuhkan sekitar 3.000 buah atau setara 150 sisir. Ia merinci, jumlah itu setara sekitar 15 tandan atau 15 pohon pisang untuk sekali pemberian. Jika distribusi dilakukan dua kali seminggu, kebutuhan menjadi 30 pohon per pekan, 120 pohon per bulan, dan 1.440 pohon per tahun. Dengan asumsi 1 hektare memuat 1.000 pohon pisang, maka diperlukan sekitar 1,5 hektare kebun pisang untuk memasok satu SPPG.

Kebutuhan protein hewani juga disebut tidak kecil. Untuk menu lele, satu kali pemberian makan memerlukan sekitar 3.000 ekor lele atau setara dua kolam bioflok. Jika distribusi dilakukan empat kali dalam sebulan, maka dibutuhkan sekitar 32 kolam lele untuk menopang satu SPPG.

Adapun untuk menu berbasis telur, satu SPPG memerlukan sekitar 3.000 butir telur. Dengan produktivitas rata-rata 0,8 butir per hari, Dadan menyebut diperlukan sekitar 4.000 ekor ayam petelur atau setara empat kandang ayam petelur. Ia menambahkan, kebutuhan pakan seperti jagung juga ikut meningkat ketika jumlah ayam yang dipelihara bertambah.