BERITA TERKINI
Menu MBG Ramadan di Ngawi Disorot Netizen, DPRD Minta SPPG Evaluasi Kualitas

Menu MBG Ramadan di Ngawi Disorot Netizen, DPRD Minta SPPG Evaluasi Kualitas

NGAWI – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di Kabupaten Ngawi menuai kritik dari warganet. Sejumlah paket makanan yang dibagikan Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) dinilai tidak memenuhi standar kelayakan dan jauh dari tujuan pemenuhan gizi untuk siswa.

Sejak hari pertama masuk sekolah pada bulan Ramadan, Senin (22/2/2026), siswa menerima paket MBG berupa menu kering untuk dibawa pulang. Namun, foto dan video yang diunggah orang tua murid di media sosial memicu protes.

Dalam salah satu unggahan di grup Facebook Ngawi, seorang netizen memperlihatkan paket berisi sepotong roti wijen, satu buah pisang, dan sebungkus kecil abon ayam. Unggahan itu disertai keluhan terkait nilai anggaran yang disebut sebesar Rp15.000 per paket.

Keluhan serupa juga muncul dari Kecamatan Paron. Seorang guru yang enggan disebutkan namanya mengunggah menu yang terdiri dari satu buah apel hijau kecil, ketela panggang, dan sebutir telur. Menu tersebut dinilai belum mencerminkan pemenuhan protein dan gizi sebagaimana yang diharapkan.

Menanggapi polemik itu, anggota DPRD Kabupaten Ngawi, Agung Rezkina Pramesti, menyatakan keprihatinannya. Ia menilai program pemenuhan gizi anak tidak semestinya dijalankan tanpa memperhatikan kualitas.

“Jujur sedih ketika melihat foto MBG yang beredar. Bisa dikatakan bergizi jika mengandung unsur protein nabati, hewani, karbohidrat, sayur, dan buah. Dengan postingan yang beredar, itu sangat jauh dari kategori bergizi,” kata Agung, Rabu (25/2/2026).

Agung yang juga Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi menekankan perlunya evaluasi standar menu harian. Ia mengkritik penggunaan roti sebagai sumber karbohidrat utama dan menyinggung adanya temuan bahan makanan seperti kedelai yang kondisinya disebut sudah menghitam.

Ia meminta pengelola SPPG lebih serius dalam menjalankan program. Menurutnya, bila anggaran dinilai tidak mencukupi karena harga bahan pokok, menu sederhana dengan kualitas lebih baik dapat menjadi pilihan.

“Kalau memang anggaran tidak mencukupi karena alasan harga bahan pokok mahal, lebih baik diberikan menu sederhana tapi berkualitas tinggi seperti susu UHT, telur, dan buah. Itu sudah cukup untuk memenuhi protein anak daripada memberikan roti yang tidak jelas kelayakannya,” ujarnya.

Agung mendesak pengelola SPPG segera mengevaluasi standar menu MBG agar tujuan program untuk mendukung generasi sehat tidak dikorbankan.