JAKARTA — Pemerintah mendorong percepatan substitusi impor di sektor otomotif dengan memperluas keterlibatan industri kecil dan menengah (IKM) dalam rantai pasok kendaraan listrik berbasis baterai (EV). Upaya ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada komponen impor sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan penguatan ekosistem baterai EV menjadi kunci dalam mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Menurutnya, Indonesia tengah mempercepat pengembangan industri baterai kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi menuju ekosistem transportasi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Agus menilai Indonesia memiliki rekam jejak positif dalam pengembangan industri otomotif. Keberhasilan tersebut, kata dia, perlu ditularkan ke sektor kendaraan listrik, terutama pada komponen hilir yang masih banyak bergantung pada pasokan luar negeri. Hal itu disampaikan Agus saat pembukaan gelaran Link and Match IKM Alat Angkut di Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Ia menekankan bahwa struktur baterai masih menjadi penentu terbesar dalam perolehan nilai TKDN untuk kendaraan listrik. Jika Indonesia mampu memproduksi baterai secara mandiri, nilai TKDN EV dinilai dapat meningkat signifikan. Penguatan itu, menurut Agus, akan semakin optimal apabila IKM turut berpartisipasi dalam rantai pasok komponen kendaraan listrik, termasuk baterai.
Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan nilai impor otomotif masih tinggi. Selama Januari–September 2025, total impor otomotif tercatat mencapai 8,20 miliar dollar AS, sementara impor komponen otomotif mencapai 2,29 miliar dollar AS. Disebutkan pula bahwa nilai impor komponen pada tahun ini kembali naik hampir 20 persen, dari 2,29 miliar menjadi 2,42 miliar dollar AS.
Menurut Agus, tren tersebut menunjukkan peluang bagi industri lokal untuk masuk dan menggantikan produk impor. Ia menilai pemanfaatan peluang ini dapat mendorong keberhasilan substitusi impor, memperdalam struktur manufaktur nasional, dan menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Meski demikian, Agus menyebut ekosistem IKM komponen alat angkut masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Ia menilai tantangan itu perlu diatasi bersama agar kemitraan antara IKM dan industri besar dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

