BERITA TERKINI
Mengenal Double Blooming, Metode Seduh Andalan Darat Coffee Lab

Mengenal Double Blooming, Metode Seduh Andalan Darat Coffee Lab

Inovasi dalam dunia seduh kopi terus berkembang. Pada 2016, ajang World Brewers Cup mencatat kemenangan Tetsu Katsuya lewat metode seduh 4:6. Barista asal Jepang itu meraih juara pertama, sementara Odd-Steiner—yang disebut sebagai juara dunia tahun sebelumnya—berada di posisi keenam. Pada periode yang berdekatan, budaya ngopi eksklusif di Indonesia juga disebut tengah naik daun, salah satunya dipengaruhi tren yang menguat setelah film Filosofi Kopi.

Seiring tren tersebut, coffee shop baru terus bermunculan. Salah satunya adalah Darat Coffee Lab yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Selain beroperasi sebagai coffee shop dan roastery, Darat Coffee Lab juga kerap mengikuti kompetisi brewers dan barista. Dalam kompetisi menyeduh di Yogyakarta beberapa tahun lalu, mereka meraih juara dengan membawa metode seduh bernama Double Blooming.

Metode Double Blooming kemudian dikenal dan disebut sering digunakan, bahkan menjadi andalan seduh manual bagi barista maupun home brewers. Namun pada awalnya, metode ini sempat dianggap “tabu” oleh sebagian kalangan, termasuk barista, home brewers, dan pendukung kopi.

Alasannya berkaitan dengan teori dasar blooming dalam seduh manual. Blooming dipandang sebagai salah satu penentu cita rasa seduhan. Disebutkan bahwa semakin lama waktu blooming, seduhan dapat menghasilkan efek bitter atau pahit. Karena Double Blooming melibatkan dua kali proses blooming, muncul pertanyaan tentang bagaimana dampaknya terhadap rasa kopi yang dihasilkan.

Sebelum membahas lebih jauh, penting memahami prinsip dasar seduh manual. Ada banyak variabel yang memengaruhi hasil seduhan. Pertama, penyeduh perlu mengenali jenis kopi yang digunakan, seperti Arabika atau Robusta. Dalam praktiknya, banyak orang menyukai Arabika karena dinilai memiliki cita rasa yang kompleks.

Berikutnya, penyeduh perlu mengetahui asal kopi, ketinggian tempat tumbuh, proses pascapanen, serta tingkat sangrai (light, medium, atau dark). Setelah kopi siap diseduh, variabel lain yang turut menentukan hasil adalah metode seduh, alat yang digunakan, ukuran gilingan (grind size), suhu air, rasio seduh, dan faktor terkait lainnya.

Seluruh variabel tersebut saling berkaitan. Sebagai contoh, kopi Arabika dengan proses honey dan tingkat sangrai light disebut cenderung memunculkan karakter rasa manis atau fruity. Tugas penyeduh adalah memunculkan dan memaksimalkan karakter tersebut. Karena itu, mengenali kopi yang digunakan menjadi bagian penting dalam upaya mendapatkan rasa terbaik.