Pacitan, yang dikenal sebagai kota seribu gua dan kawasan pesisir selatan Jawa Timur, juga menyimpan daya tarik lain yang kerap luput dari perhatian wisatawan: kuliner jalanan. Di kota ini, angkringan bukan sekadar tempat membeli makanan kaki lima, melainkan bagian dari denyut kehidupan warga, terutama saat malam hari.
Di tengah udara malam yang dingin dan lalu lintas yang masih terdengar, angkringan menjadi ruang persinggahan. Pengunjung bisa duduk lesehan, menyeruput teh panas, dan menikmati nasi kucing dengan lauk sederhana. Suasananya kerap diisi obrolan hangat, mempertemukan berbagai kalangan—dari anak muda hingga orang tua, pelajar hingga pekerja malam—di bawah temaram lampu.
Angkringan di Pacitan juga dipandang sebagai budaya: titik temu antara rasa, cerita, dan kebersamaan. Sejumlah tempat bahkan disebut menjadi favorit warga lokal sekaligus mulai dikenal pelancong yang ingin merasakan sisi lain kota ini.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari Google Maps pada Kamis (16/10), salah satu angkringan yang disebut layak disambangi adalah Angkringan Bang Mu’i. Lokasinya berada di Jl. RM Suryo, Barehan, Ploso, Pacitan, dan buka mulai pukul 08.00 hingga sore.
Dengan tampilan yang sederhana, Angkringan Bang Mu’i dikenal dengan suasana yang akrab. Pengunjung disebut akan disambut pemiliknya, Pak Mu’i, yang dikenal ramah. Menu yang ditonjolkan antara lain gorengan hangat dan teh tarik segar yang disajikan dengan es batu melimpah. Selain itu tersedia pula nasi bungkus, sate usus, sate telur puyuh, serta aneka camilan.
Tempat ini disebut cocok untuk sarapan santai atau sekadar menikmati teh manis sambil berbincang.

