Matcha dalam beberapa tahun terakhir kian populer sebagai minuman favorit di berbagai kafe modern, dari kota besar hingga daerah. Warna hijau khasnya kerap tampil di media sosial dan diasosiasikan dengan gaya hidup sehat serta estetika. Di balik tren itu, matcha juga disebut memiliki sejumlah manfaat kesehatan yang mulai diperkuat oleh temuan ilmiah.
Matcha merupakan bubuk teh hijau dari daun Camellia sinensis, tanaman yang sama dengan teh hijau pada umumnya. Perbedaannya terletak pada cara budidaya. Daun matcha ditanam dengan teknik shading atau perlindungan dari sinar matahari selama beberapa minggu sebelum panen. Proses ini meningkatkan kadar klorofil dan asam amino seperti L-theanine yang disebut menjadi salah satu sumber manfaatnya.
Ahli gizi Universitas Gadjah Mada, Dr. Ririn Widyastuti, M.Sc, menyatakan kandungan antioksidan matcha lebih tinggi dibandingkan teh hijau biasa. Ia mengatakan satu cangkir matcha setara dengan sepuluh cangkir teh hijau biasa dalam hal antioksidan. Menurutnya, kandungan tersebut berperan membantu melawan radikal bebas, meningkatkan metabolisme, dan menjaga kesehatan jantung.
Selain itu, matcha juga dipercaya dapat membantu menenangkan pikiran. L-theanine disebut bekerja bersama kafein sehingga memberikan efek fokus dan tenang sekaligus, berbeda dengan kopi yang pada sebagian orang dapat memicu kegelisahan. Dr. Ririn menambahkan, matcha dapat memberi energi yang lebih stabil dan meningkatkan konsentrasi tanpa efek penurunan energi secara tiba-tiba, sehingga menjadi alternatif yang dipilih sebagian pelajar dan pekerja kreatif.
Meski demikian, konsumsi matcha juga perlu disertai perhatian terhadap kualitas produk. Matcha premium dengan label “ceremonial grade” disebut memiliki nutrisi dan rasa yang lebih baik dibandingkan versi kuliner yang umumnya lebih murah.
Di Yogyakarta, sejumlah kafe mulai mempopulerkan matcha lokal yang diolah dari petani teh di lereng Gunung Lawu dan Gunung Slamet. Inisiatif ini dinilai tidak hanya mengikuti tren minuman sehat, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi lokal.
“Kami ingin menunjukkan bahwa matcha bukan sekadar minuman trendi, tapi bagian dari gaya hidup yang berkelanjutan,” kata Raka Pratama, pemilik Kolbano Café Jogja yang menyediakan matcha lokal organik.
Dengan manfaat kesehatan yang banyak dibicarakan serta potensi ekonomi yang terus tumbuh, matcha kini dipandang tidak hanya sebagai minuman kekinian, tetapi juga bagian dari meningkatnya kesadaran untuk hidup sehat, menjaga fokus, dan kembali pada produk berbasis alam.

