Masjid Suciati Saliman di Sleman tetap ramai didatangi jemaah meski Ramadan memasuki sepekan terakhir. Kegiatan buka puasa dan sahur bersama yang digelar di masjid tersebut menjadi agenda yang banyak diminati, terutama oleh kalangan mahasiswa, pekerja di sekitar masjid, serta warga setempat.
Staf Masjid Suciati Saliman, Nanang Panji Pratama, menjelaskan persiapan berbuka sudah dimulai sejak setelah Salat Ashar. Menu berbuka dari katering biasanya dikirim sebelum Ashar, lalu takmir dan relawan bergeser ke basement yang menjadi lokasi buka bersama untuk membersihkan area, menggelar karpet panjang, dan menata hidangan.
“Setelah Ashar kita sudah mulai menata karpet, meja dan semuanya,” kata Nanang, Minggu (23/5/2025).
Menurut Nanang, penataan makanan membutuhkan waktu cukup lama karena hidangan disajikan per piring. Pola ini diterapkan setelah masa pandemi Covid-19, berbeda dengan sebelumnya yang sempat menggunakan sistem prasmanan. Dengan penyajian per piring, relawan harus membagi makanan ke dalam ratusan porsi sejak selepas Ashar.
Setiap hari, sekitar 20 relawan terlibat dalam persiapan. Proses penataan biasanya selesai sekitar pukul 16.30 WIB. Untuk minuman, panitia memilih menyajikannya mendekati waktu berbuka agar tetap hangat.
“Selesai menata itu dikisaran jam setengah lima. Itu sudah ditempatkan semua di meja-meja piring dan untuk minuman kita hidangkan waktu pukul 17.15 WIB. Karena yang minumannya kita hidangkan biar tidak dingin. Kita akan menyajikan teh hangat,” ujarnya.
Masjid Suciati Saliman menyiapkan rata-rata ratusan porsi takjil setiap hari, paling sedikit sekitar 300 porsi. Dalam catatan takmir, jumlah porsi pernah mencapai 500 dan habis dalam hitungan menit setelah azan berkumandang. Pada kondisi tertentu, jumlah jemaah bisa melebihi porsi yang disediakan. Jika terjadi, takmir berupaya agar semua tetap bisa berbuka, salah satunya dengan mengganti porsi nasi yang tidak kebagian dengan roti.
“Kadang-kadang karena saking jemaahnya yang ngaji atau yang datang kesini banyak. Di suatu hari pernah kita menyediakan 300 porsi, tetapi jemaah belum dapat dan itu kita kasih yang belum mendapatkan jatan nasi kita kasih dengan roti,” kata Nanang.
Kegiatan buka dan sahur bersama di Masjid Suciati Saliman telah berjalan sejak 2019 dan sempat berhenti pada 2020 saat pandemi. Setelah situasi membaik, kegiatan kembali digelar. Untuk berbuka, masjid menyiapkan sekitar 300–500 porsi, sementara sahur disediakan 200–300 porsi setiap dini hari. Seluruh kegiatan didanai dari donasi dan infak masjid.
Nanang menyebut jumlah porsi berbuka biasanya diperkirakan dari jumlah peserta Tadabur Senja, kajian sore yang digelar menjelang waktu berbuka. Jika pengisi kajian menarik jemaah lebih banyak, porsi makanan juga ditambah. Adapun porsi sahur cenderung meningkat pada 10 hari terakhir Ramadan karena banyak jemaah yang melakukan iktikaf.
“Dikarenakan di 10 hari terakhir ini ada yang jemaah iktikaf, kurang lebih ada 150 orang yang tinggal di masjid,” ujarnya.
Ia juga menilai jumlah jemaah tidak selalu dipengaruhi fase Ramadan, melainkan lebih sering dipengaruhi cuaca. Saat hujan turun, jumlah peserta buka dan sahur biasanya berkurang.
Soal menu, olahan ayam menjadi sajian yang paling dominan untuk buka maupun sahur. Nanang mengatakan masjid memiliki katering tersendiri, dan menu banyak berbahan ayam karena pemilik masjid memiliki usaha pemotongan ayam. Variasi menu antara lain ayam goreng, ayam bakar, fried chicken, ayam gulai, ayam kecap, sate ayam, dan olahan lainnya.
Nanang berharap kegiatan buka dan sahur bersama ini dapat terus dipertahankan sebagai upaya mendekatkan masyarakat dengan masjid serta memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Ia menyebut jemaah yang datang banyak berasal dari kalangan muda, termasuk mahasiswa dan pekerja, selain warga sekitar.
Salah satu jemaah, Baskoro, warga Tempel, mengaku sudah beberapa kali sengaja datang untuk berbuka di Masjid Suciati Saliman. Ia menilai lokasi yang dekat, fasilitas yang nyaman, serta kajian yang menarik menjadi alasan utama. Menurutnya, suasana masjid juga terasa kental dengan nuansa anak muda karena banyak jemaah dan pengurus yang berusia muda.
“Di sini kerasa vibes anak mudanya. Anak mudanya di sini lebih [banyak], contohnya mading itu. Terus pengurusnya itu muda-muda, jadi lebih enak diajak komunikasi,” kata Baskoro yang datang bersama istrinya.
Ia juga menyebut tidak memiliki keluhan terkait menu berbuka. Jika diminta memilih, ayam bakar menjadi menu favoritnya. Baskoro berharap kegiatan buka dan sahur bersama dapat terus berlangsung pada tahun-tahun berikutnya, disertai peningkatan fasilitas.

