BERITA TERKINI
Mantan Pramugari Singapore Airlines Beralih Jadi Penjual Teppanyaki, Berawal dari Kisah Cinta

Mantan Pramugari Singapore Airlines Beralih Jadi Penjual Teppanyaki, Berawal dari Kisah Cinta

Cherry Tan, mantan pramugari Singapore Airlines, kini menjalankan bisnis makanan kaki lima (hawker) bersama suaminya, Duncan Hsu, dengan menjajakan teppanyaki di Singapura. Perjalanan karier barunya itu bermula dari pertemuan keduanya saat Tan berusia 19 tahun.

Menurut laporan Stomp pada 4 September 2026, Tan kala itu menjalani magang selama enam bulan di Taiwan sebagai pelayan di restoran hotel. Di tempat yang sama, Hsu bekerja sebagai chef. Dari pertemuan tersebut, hubungan mereka berkembang menjadi asmara yang kemudian dijalani secara jarak jauh selama empat tahun.

Selama bekerja sebagai awak kabin, Tan menikmati kesempatan bepergian ke berbagai negara. Namun, ia menilai pekerjaan itu tidak selalu seindah bayangan banyak orang. Seiring waktu, Tan mulai mempertimbangkan pilihan karier lain karena melihat peluang perkembangan yang terbatas. Ia juga ingin memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga ketika kelak menjadi ibu.

Keputusan meninggalkan dunia penerbangan semakin mantap ketika Hsu berencana membuka usaha makanan sendiri di Singapura. Sebagai warga asing, Hsu menghadapi tantangan terkait kemampuan berbahasa Inggris dan proses administrasi setempat. Tan pun memutuskan membantu.

Keduanya kemudian mendirikan Kiang Kiang Taiwan Teppanyaki yang menyajikan makanan bergaya Western khas Taiwan. Dalam dua tahun, bisnis tersebut berkembang hingga memiliki gerai di Woodlands dan Bedok.

Meski tengah hamil tujuh bulan, Tan masih membantu pekerjaan ringan di gerai, seperti mengeringkan alat makan dan menyapa pelanggan. Ia mengaku bersyukur memiliki tim yang dapat menjaga kedua gerai ketika dirinya tidak bisa bekerja penuh, namun tetap senang terlibat langsung dalam operasional usaha.

Tan juga mengungkapkan bahwa pendapatan sebagai pemilik usaha tidak sestabil saat ia masih menjadi pramugari. Ia menyebut ada masa ketika penjualan di kedua gerai menurun cukup drastis, terutama setelah melewati bulan Juni.

Situasi tersebut sempat membuatnya mempertanyakan keputusan bisnis, terlebih ketika ia tengah menantikan kelahiran anak pertama. Meski begitu, Tan dan Hsu menyatakan telah membayangkan pengembangan usaha, termasuk membuka konsep baru atau gerai teppanyaki lainnya.