SUKOHARJO — Mahasiswa Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar pendampingan pembuatan pestisida nabati dari bahan dapur sebagai upaya mengatasi hama tanaman. Kegiatan monodisiplin ini menyasar ibu-ibu PKK yang di dalamnya terdapat Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Program dilaksanakan di Balai Desa Banaran pada Selasa (30/7/2024) dan berfokus pada pembuatan pestisida nabati sebagai alternatif penanganan hama, dengan target khusus hama ulat grayak. Hama tersebut disebut kerap menjadi persoalan bagi petani, khususnya KWT di Desa Banaran, karena dapat merusak tanaman secara signifikan.
Kegiatan ini diinisiasi Firen Amelia Ardana, mahasiswi KKN dari Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Matematika. Ia menyampaikan edukasi mengenai pemanfaatan sejumlah bahan dapur sebagai pestisida nabati yang dinilai lebih aman dan alami, terutama mengingat dampak negatif pestisida kimia terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Dalam pelatihan, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan membuat pestisida nabati menggunakan bahan yang mudah ditemukan, seperti daun pepaya, serai, bawang putih, dan detergen. Disebutkan, efektivitas pestisida nabati berbahan dasar daun pepaya sebagai pengusir hama pada tanaman dapat mencapai 70–80%.
Pestisida nabati tersebut dinilai cocok untuk perawatan tanaman sayuran maupun tanaman hias. Bahan alami yang digunakan diharapkan membuat sayuran lebih aman untuk dikonsumsi serta membantu menjaga tanaman hias dari kontaminasi bahan kimia berbahaya.
Selain pemaparan materi, kegiatan juga disertai demonstrasi pembuatan pestisida nabati berbahan daun pepaya. Masyarakat yang hadir mengapresiasi kegiatan tersebut, termasuk ibu-ibu PKK yang memiliki tanaman hias di halaman rumah dan tertarik mencoba membuatnya secara mandiri.
Adapun langkah pembuatan yang diperagakan dimulai dengan menghaluskan daun pepaya, serai, dan bawang putih. Campuran kemudian ditambahkan air secukupnya hingga sedikit mencair, lalu diberi satu sendok detergen untuk membantu penyebaran larutan saat diaplikasikan pada tanaman. Setelah itu, campuran disaring menggunakan kain halus untuk memisahkan ampas dan larutan, lalu didiamkan selama 24 jam. Larutan yang sudah didiamkan kemudian dapat digunakan dengan cara disemprotkan langsung pada tanaman yang terserang ulat grayak.
Program ini juga menekankan sejumlah manfaat pestisida nabati, antara lain ramah lingkungan karena dinilai tidak mencemari tanah dan air, serta aman bagi manusia dan hewan. Selain itu, penggunaan bahan seperti daun pepaya dan serai yang kerap menjadi limbah dapur turut mendorong pemanfaatan limbah agar lebih bernilai.
Melalui pendampingan tersebut, ibu-ibu PKK Desa Banaran diharapkan memperoleh pengetahuan baru untuk menangani hama ulat grayak sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Program ini diharapkan menjadi langkah awal mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia dan memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

