BERITA TERKINI
Lontong Balap Sawo-sawo “Abah Ji” di Petemon Surabaya: Warung Turun-Temurun Lima Generasi dengan Harga Rp10 Ribu

Lontong Balap Sawo-sawo “Abah Ji” di Petemon Surabaya: Warung Turun-Temurun Lima Generasi dengan Harga Rp10 Ribu

Di tengah harga kuliner tradisional Surabaya yang kian banyak merangkak naik, sebuah warung lontong balap di kawasan Petemon masih mempertahankan harga terjangkau. Warung tersebut dikenal dengan nama Lontong Balap Sawo-sawo “Abah Ji”, yang berlokasi di Jalan Simo Katerungan Nomor 246, Surabaya. Selain ramai pembeli, warung ini disebut memiliki pelayanan yang ramah.

Kunjungan ke warung itu bermula dari kebiasaan keluarga. Seorang ayah yang menggemari makanan khas Surabaya, lontong balap, mengajak anaknya untuk mampir ke warung langganan setiap kali pulang dari perantauan. Meski semula tidak menyukai taoge—salah satu komponen utama lontong balap—pengalaman makan di warung tersebut perlahan mengubah selera.

Secara umum, lontong balap terdiri dari lontong, taoge, tahu goreng, lentho, serta bumbu berkuah. Taoge biasanya menjadi isian dengan porsi paling banyak. Sementara lentho merupakan gorengan berbahan kacang tolo. Dalam penyajiannya, kuah menjadi salah satu penentu rasa, terlebih jika ditambah lauk pelengkap seperti sate kerang.

Pada Minggu, 12 Januari 2025, keluarga itu kembali mendatangi Lontong Balap Sawo-sawo “Abah Ji”. Bagi sang anak, kunjungan ini bukan yang pertama. Ia mengingat pengalaman saat Lebaran 2022, ketika seusai salat ia dan ayahnya berkeliling mencari sarapan dengan sepeda motor. Saat banyak tempat terlihat tutup dan penjual makanan tidak tampak, ayahnya tetap yakin warung di Petemon itu buka. Ketika sampai, warung tersebut benar-benar melayani pembeli dan sudah ramai.

Di lokasi, seorang pria yang disebut lebih tua dari sang ayah menyambut mereka dengan senyum dan sapaan akrab. Pria itu kemudian diketahui bernama Abah Ji. Ayahnya memesan dua porsi seperti biasa, lalu mereka duduk dan menunggu pesanan.

Sekitar 10 menit kemudian, dua porsi lontong balap tersaji. Melihat porsi taoge yang melimpah, sang anak sempat menyesal tidak meminta taoge dipisah. Namun ia mengurungkan niat, karena lontong balap tanpa taoge dianggap ganjil. Ia pun mencoba makan perlahan, hingga akhirnya merasa cocok saat semua bahan bercampur. Dalam waktu kurang dari 20 menit, porsi di piringnya hampir habis.

Seusai makan, ayahnya membayar Rp10 ribu per porsi. Harga tersebut membuat sang anak terkejut karena dinilai murah di tengah kondisi saat ini. Rasa penasaran kemudian mengarah pada pertanyaan tentang sejarah warung yang telah lama berdiri itu.

Erma (36), salah satu anak Karmuji selaku pemilik warung, menjelaskan bahwa usaha tersebut merupakan bisnis keluarga yang telah berjalan lama dan diwariskan turun-temurun. “Warung ini sudah buka sejak lama, bisnis turun temurun dari buyut saya. Bisa dibilang sudah 5 generasi,” kata Erma. Ia mengaku telah membantu sejak SMP dan menyebut usaha bermula dari para leluhur yang gemar memasak dan meracik makanan khas daerah, termasuk lontong balap, hingga akhirnya dijual karena rasanya disukai.

Erma juga menyampaikan bahwa keluarganya merupakan pendatang asal Gresik. Pada masa ia kecil, ayahnya pernah memiliki sekitar 15 pegawai keliling, sebagian besar kerabat dekat. Seiring waktu, jumlah pegawai berkurang. Kini Karmuji memiliki lima pegawai yang berjualan keliling dengan rombong di sekitar Petemon, sementara produksi masakan disebut dibantu oleh adik Karmuji.

Di luar usaha lontong balap, Erma dan suaminya menjalankan bisnis katering dan berprofesi sebagai guru. Namun belakangan, ia lebih sering membantu berjualan karena kondisi orang tuanya yang mulai menurun. Meski jumlah pegawai keliling berkurang, Erma menegaskan usaha keluarga itu akan tetap berjalan.

Warung tersebut juga tetap buka pada hari libur karena pembeli cenderung lebih ramai. Erma menyebut pihaknya menyiapkan taoge dalam jumlah besar, bahkan hingga 30 kilogram, dan pada hari libur maupun hari besar persediaan dibawa lebih banyak. Keluarga pemilik warung menyatakan tidak berniat menaikkan harga, tetap Rp10 ribu per porsi dengan porsi seperti biasa.