BERITA TERKINI
Liputan Tiga Hari di Semarang: Ragam Kuliner dan Cerita Perantau yang Menilai Rasanya Lebih Berani dari Jogja

Liputan Tiga Hari di Semarang: Ragam Kuliner dan Cerita Perantau yang Menilai Rasanya Lebih Berani dari Jogja

Selama tiga hari peliputan di Semarang, agenda kuliner seolah tak pernah kehabisan pilihan. Dari kawasan atas hingga pesisir utara, pengalaman makan yang ditemui menunjukkan karakter rasa yang beragam—mulai dari kuah bening yang kaya rempah, hingga sajian pesisir dengan menu yang tak lazim ditemui sehari-hari.

Di hari pertama, perjalanan kuliner dimulai dari kawasan atas dekat kampus Universitas Diponegoro (Undip). Di sebuah warung soto tepi jalan di Kecamatan Banyumanik, semangkuk soto berkuah bening terasa gurih dengan dominasi rempah. Sajian itu menjadi teman yang pas untuk malam di Semarang bagian atas yang berhawa relatif sejuk.

Hari berikutnya, suasana berubah ketika liputan berlanjut ke pusat kota di sekitar Simpang Lima. Kawasan ini tampak lebih sibuk, dengan deretan gerobak makanan yang sudah bersiap sejak sore. Di area Pecinan, lumpia hangat dan nasi ayam disajikan cepat tanpa banyak tambahan bumbu. Sekilas tampilannya mirip ayam goreng pada umumnya, namun rasa rempah dan sambalnya terasa lebih kuat. Seporsi ayam goreng bahkan cukup untuk menemani dua piring nasi.

Di hari ketiga, perjalanan ditutup di pesisir utara, tepatnya di sebuah warung tenda tanpa nama di Kecamatan Tugu. Menu utamanya ikan bakar yang disantap bersama sambal dan jeruk nipis. Ikan bakarnya dinilai biasa, tetapi pengalaman kuliner di tempat itu berlanjut lewat menu yang belum pernah dicoba sebelumnya: oseng krokot dan keripik mangrove. Citarasanya yang unik membuat menu tersebut sulit untuk berhenti dikunyah.

Di sela liputan, penilaian soal kuliner Semarang juga datang dari seorang perantau asal Yogyakarta. Malik (32), yang sudah sepuluh tahun tinggal di Semarang untuk kuliah dan bekerja, mengaku kini lebih hafal nama warung di Semarang dibanding di kampung halamannya.

“Awalnya saya kira Jogja paling enak,” kata Malik saat ditemui di warung dekat Simpang Lima, Minggu (28/10/2025). “Tapi setelah lama di sini, saya sadar, Semarang itu jauh lebih unggul kalau soal kuliner. Bahkan kalau dibandingkan Jogja, rasanya lebih berani dan lebih bervariasi.”

Menurut Malik, kekuatan kuliner Semarang terletak pada keberagaman rasa yang dipengaruhi banyak budaya. Ia menyebut, di Semarang atas banyak ditemui makanan khas Jawa pegunungan yang cenderung berkuah dengan rempah kuat. Sementara di pusat kota dan wilayah pesisir, pengaruh Tionghoa dan Arab terasa lebih menonjol, terlihat dari pilihan seperti lumpia, nasi kebuli, lontong tahu, soto daging, hingga aneka olahan seafood.

“Sedangkan Jogja enak, tapi agak monoton,” ujarnya. “Rasanya itu-itu aja, nuansa Jawanya kuat sekali. Kadang bagus karena konsisten, tapi ya itu sensasinya cuma gitu-gitu aja.”

Ia juga menilai tiap wilayah di Semarang seperti memiliki identitas rasa sendiri. “Kalau di Semarang, kamu pindah satu kecamatan aja, cita rasanya bisa berubah total,” katanya. Sebaliknya, menurutnya, di Yogyakarta pilihan rasa yang ditawarkan cenderung serupa di berbagai tempat.

Soal karakter rasa, Malik menyebut lidah masyarakat Semarang cenderung menyukai cita rasa yang “nendang”, dengan kecenderungan gurih dan agak pedas. Ia menggambarkan dalam satu suapan bisa terasa manis, asin, gurih, dan pedas sekaligus. Contoh yang ia sebut antara lain tahu gimbal dengan bumbu kacang kental yang sedikit asam, serta nasi goreng babat yang gurih dan pedas namun tetap seimbang.

Di sisi lain, ia menilai rasa manis lebih dominan dalam banyak hidangan di Yogyakarta. “Kalau di Jogja, yang manis dianggap khas. Tapi lama-lama bikin bosan juga,” katanya. Ia menambahkan, Semarang dinilainya lebih fleksibel: pedasnya bisa menantang tanpa berlebihan, manisnya cukup, dan gurihnya pas.

Malik juga mengaitkan dinamika kuliner Semarang dengan sejarah kota dagang dan kedekatannya dengan laut. Menurutnya, sejak lama Semarang sebagai kota pelabuhan menjadi titik pertemuan berbagai etnis—Jawa, Tionghoa, Arab, hingga Belanda—yang ikut membentuk selera masyarakat. Faktor geografis pun disebut berperan karena bahan makanan seperti ikan, sayur, dan bumbu dapur lebih mudah didapat.

Penilaian serupa juga datang dari Aish (23), rekan kerja asal Surabaya yang kini menetap di Yogyakarta. Untuk pertama kalinya ia datang ke Semarang karena tugas kantor. Dalam pengalamannya, ia mengaku kuliner Semarang terasa lebih unggul dibanding Yogyakarta.

Di akhir perbincangan, Malik menyampaikan kesimpulan singkat tentang cara menikmati kota itu: “Semarang nggak butuh embel-embel kota kuliner atau istimewa. Cukup datang dan coba sendiri.”