BERITA TERKINI
Lima Tren Wisata Kuliner Kota Batu 2025: Dari Street Food Lokal hingga Camilan Legendaris

Lima Tren Wisata Kuliner Kota Batu 2025: Dari Street Food Lokal hingga Camilan Legendaris

Tahun 2025 menandai perubahan dalam wisata kuliner. Wisatawan tidak lagi semata mencari rasa, tetapi juga pengalaman yang dianggap lebih bermakna dan ramah lingkungan. Di Kota Batu, ragam kuliner serta tempat makan yang kerap disebut “hidden gem” ramai dibicarakan di media sosial, mulai dari jajanan tradisional hingga konsep makan modern.

Berikut lima tren wisata kuliner di Kota Batu yang mencuat sepanjang 2025.

1. Street food lokal naik kelas

Ketan bubuk dan ketan kicir, jajanan tradisional yang umum ditemui di Jawa Timur, kembali mendapat tempat dengan wajah baru. Ketan bubuk berupa beras ketan kukus dengan taburan bubuk kedelai gurih, sedangkan ketan kicir disajikan dengan kelapa parut dan sirup gula merah.

Di Batu, jajanan ini dahulu lekat dengan suasana malam yang dingin dan warga yang berbincang di warung ketan. Kini, ketan bertransformasi menjadi kudapan kekinian. Salah satu contohnya Pos Ketan Legenda – 1967 yang menyajikan ketan dengan lebih dari 15 pilihan topping, seperti susu kental manis, keju, meses, durian, dan lainnya. Inovasi ini membuat ketan tak hanya dinikmati generasi tua, tetapi juga diburu wisatawan muda.

2. Sego empog sebagai sarapan, ditambah pengalaman “warung with a view”

Bakso kerap disebut sebagai kuliner khas Batu, seiring banyaknya warung bakso yang dikenal luas. Namun, ada pilihan sarapan yang juga menjadi favorit warga, yakni sego empog atau nasi jagung.

Sego empog di Batu memiliki ciri khas berupa siraman “Jangan Pedes”, sayur bersantan dengan isian tempe, tahu, tempe kacang, dan ikan asin. Salah satu tempat yang disebut menawarkan pengalaman berbeda adalah Sego Empog Wakini. Perjalanan menuju warung ini melewati lembah, sungai, dan perkebunan warga. Jalur mobil yang cukup sempit membuat pengunjung menikmati pemandangan sebelum tiba di warung yang berada di samping perkebunan jeruk. Dari lokasi makan, pengunjung dapat melihat Gunung Arjuno di kejauhan.

3. Farm to table semakin diminati

Kesadaran terhadap kesehatan dan keberlanjutan ikut mendorong popularitas konsep farm to table. Konsep ini menekankan asal-usul bahan makanan, dengan gagasan bahwa semakin pendek perjalanan bahan dari pertanian ke piring, semakin sedikit bahan kimia dan energi yang digunakan, sehingga makanan dinilai lebih sehat dan ramah lingkungan.

Di Kota Batu, salah satu tempat yang menerapkan konsep ini adalah Imajimu. Meski interiornya bertema luar angkasa, bahan makanan yang disajikan berasal dari rumah kaca (greenhouse) di halamannya. Pengunjung dapat melihat langsung proses penanaman sayur dan buah-buahan, yang kemudian diolah menjadi menu seperti sandwich, salad, hingga strawberry milkshake.

4. Tren minuman sehat: herbal tea dan tisane

Di tengah maraknya kedai kopi dan minuman kekinian, tren “sehat” mendorong perhatian pada minuman berbasis teh. Rumah Kayu Aro disebut sebagai satu-satunya tea house di Kota Batu. Lokasinya agak tersembunyi dari jalan utama, beberapa ratus meter dari Museum Angkut, dan menawarkan suasana yang tenang.

Rumah Kayu Aro menyediakan beragam teh dari bunga kering, buah-buahan, aneka daun teh, hingga rempah-rempah. Selain minuman, tersedia pula makanan berat seperti nasi, ramen, dan pizza. Salah satu menu andalannya adalah tea pot dengan racikan yang dapat diisi ulang (refill) satu kali seduh atas permintaan pengunjung.

5. Wisata rasa berbasis cerita: ladu, camilan legendaris Batu

Pengalaman kuliner yang dibingkai dengan storytelling semakin dicari kreator konten dan wisatawan. Di Batu yang identik dengan apel, pilihan oleh-oleh sering kali berulang. Padahal, ada camilan legendaris yang menyimpan cerita, yakni ladu.

Ladu merupakan kudapan berbahan beras ketan dan gula pasir dengan tekstur renyah serta rasa manis legit. Dahulu, ladu kerap menjadi suguhan di rumah saat Idul Fitri. Bentuknya menggembung menyerupai kerupuk kulit dengan diameter sekitar 5 sentimeter. Nama ladu disebut berasal dari “langgeng seduluran” yang bermakna persaudaraan abadi, sebagai simbol penyambung silaturahmi.

Didik Hariono, warga asli Kota Batu, mengenang bentuk ladu pada masa lalu berbeda dibanding sekarang. “Dulu ladu dibuat dalam ukuran besar, berbentuk tabung sekitar 10 x 30 cm. Sensasinya unik, karena kita harus mematahkannya sebelum dimakan. Karena besar, ladu bisa dinikmati bersama-sama,” ujarnya.

Saat ini, disebut hanya tersisa dua industri rumahan di Desa Gunungsari, Kota Batu, yang masih memproduksi ladu secara tradisional. Proses pembuatannya memakan waktu hingga empat hari, mulai dari merendam beras ketan, menumbuk hingga menjadi tepung, mencetak dan menjemur adonan, sampai memanggangnya dalam oven. Proses yang panjang serta menurunnya minat pasar membuat jumlah pengrajin ladu kian langka.

Di tengah tren wisata kuliner yang terus bergerak, ladu menunjukkan bahwa makanan tidak hanya soal rasa, tetapi juga memori dan warisan budaya yang perlu dijaga.