BERITA TERKINI
Konsumsi Sayur dan Buah Masih Rendah di Jabar, Keluarga Hadapi Tantangan Jajanan dan Iklan Makanan Kemasan

Konsumsi Sayur dan Buah Masih Rendah di Jabar, Keluarga Hadapi Tantangan Jajanan dan Iklan Makanan Kemasan

Mayoritas keluarga di Indonesia dinilai belum memprioritaskan sayur dan buah sebagai kebutuhan pokok harian, meski perannya penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Di Jawa Barat, situasi ini terlihat dari kebiasaan makan di rumah tangga hingga pengaruh lingkungan konsumsi pada remaja.

Nita (40), ibu tiga anak di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, mengatakan ia berusaha menghadirkan sayur dalam menu keluarga setiap hari. Namun, konsumsi buah di rumahnya cenderung lebih fleksibel mengikuti keinginan anak-anak.

“Sayur sehari dua kali, kalau buah semaunya aja, tapi diusahakan setiap hari makan buah,” kata Nita. Ia mengakui tidak semua sayuran mudah diterima anak-anak. Brokoli, misalnya, kurang disukai anak bungsunya.

Pola konsumsi yang tidak terjadwal juga dialami Ansar (17), siswa SMKN 1 Katapang, Kabupaten Bandung. Ia menyebut tidak memiliki jadwal khusus untuk makan sayur dan buah. “Tidak ada jadwal khusus untuk mengonsumsi sayur dan buah, hanya saja bila ingat belum makan, baru segerakan makan,” ujarnya.

Ansar menilai tidak semua teman sekolahnya terbiasa mengonsumsi sayur dan buah. Menurutnya, selera dan harga menjadi faktor yang memengaruhi. “Biasanya dari selera mereka yang kurang menyukai buah dan sayur. Terus harga buah agak sedikit mahal,” kata Ansar.

Selain soal selera dan harga, Nita dan Ansar sama-sama menyoroti kuatnya pengaruh makanan dan minuman “kekinian” yang tinggi gula dan kalori. Nita mengatakan anak-anaknya mudah tertarik jajanan di luar rumah, terutama setelah mulai bersekolah. “Yang susah itu yang udah sekolah, nggak kekontrol kan ya jajanannya. Tapi kalau udah masuk rumah, ya makan dan minum yang ada di rumah,” jelasnya.

Nita juga menilai iklan makanan dan minuman kemasan turut membentuk kebiasaan konsumsi anak-anak. Ia menyebut anak-anak kerap penasaran dan meminta mencoba produk tertentu saat ke minimarket. “Mereka suka penasaran dengan rasanya. Minta paling kalau ke minimarket dan itu juga dilihat dulu komposisinya,” ujarnya.

Ansar menyampaikan hal serupa. Ia melihat makanan dan minuman kekinian lebih menarik bagi anak muda karena rasa yang kuat. “Rasanya lebih lezat, seperti asin, manis, pedas. Biasanya teman-teman lebih memilih itu daripada makanan real food yang berbobot,” katanya. Ia menambahkan iklan makanan kemasan dapat mendorong kebiasaan membeli harian hingga menggeser konsumsi makanan bergizi. “Sangat berpengaruh karena membuat orang tertarik untuk mencoba dan orang tersebut malah kecanduan... sehingga lupa pada sayur, protein, dan buah,” jelas Ansar.

Dari sisi akses, Nita menilai harga sayur dan buah masih dapat dijangkau jika menyesuaikan anggaran. “Alhamdulillah masih terjangkau, pintar-pintar saja menyesuaikan dengan budget,” ucapnya. Ia memilih pasar tradisional karena lebih murah dibandingkan supermarket, dengan pilihan seperti wortel, buncis, kangkung, labu siam, timun, apel, jeruk, dan pisang.

Ansar juga lebih sering membeli dari pedagang keliling karena mudah ditemui dan lebih murah. Ia menyebut beberapa sayur yang dibeli seperti wortel, kol, dan brokoli, serta buah jeruk, apel, dan pepaya.

Keduanya menilai pemerintah dan komunitas memiliki peran untuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah. Nita mengusulkan edukasi rutin, misalnya melalui posyandu atau iklan yang menarik. Ansar menambahkan perlunya dukungan menurunkan harga serta membantu petani meningkatkan produksi agar akses masyarakat lebih mudah.

Dalam perspektif budaya, akademisi dan peneliti sejarah pangan Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, menyebut konsumsi sayur dan buah pada masyarakat Sunda memiliki akar kuat sejak masa prakolonial. Ia mencontohkan tradisi lalaban dan kuluban yang tercatat dalam jejak sejarah seperti prasasti dan naskah kuno.

Fadly menjelaskan, kondisi alam Priangan yang subur turut mendukung keragaman sayur dan buah. Ia merujuk dokumentasi dalam buku Indische Groenten (1931) karya JJ Ochse dan RC Bakhuizen van den Brink, yang mencatat jenis lalaban yang digemari masyarakat Sunda. Ochse menyebut konsumsi sayur dan buah di Tatar Sunda tinggi dan menjadi salah satu faktor dominannya konsumsi protein nabati dibandingkan daging.

Namun, Fadly menilai terjadi pergeseran preferensi seiring masuknya tanaman dari luar Nusantara sejak era kolonial. Ia menyebut tanaman seperti tomat, wortel, kol, dan timun diperkenalkan sejak abad ke-16 dan ke-17, sementara sayuran asli seperti kecipir, honje, dan bunut kini makin jarang ditemukan di perkotaan. Perubahan lingkungan dan krisis iklim juga disebut berdampak pada produksi, pola panen, dan kualitas hasil pertanian, di tengah gaya hidup yang makin bergantung pada makanan olahan dan cepat saji.

Fadly menekankan perlunya edukasi dan strategi kebudayaan agar kuliner berbasis sayur dan buah kembali kuat sebagai identitas masyarakat Sunda. Ia mendorong sinergi akademisi, pelaku usaha kuliner, dan pemerintah melalui berbagai media, termasuk budaya populer. “Kalau generasi sekarang lebih tahu makanan Korea, kita butuh strategi kebudayaan untuk memperkenalkan kuliner Sunda agar tidak kalah dengan kuliner asing,” tegasnya.

Dari sisi kesehatan, anjuran konsumsi sayur dan buah bagi balita dan anak usia sekolah disebut 300–400 gram per orang per hari, sedangkan remaja dan dewasa 400–600 gram per orang per hari, dengan sekitar dua per tiga porsi berupa sayur. Sejumlah penelitian yang dikutip menunjukkan konsumsi sayur dan buah berkaitan dengan perlindungan terhadap risiko penyakit tidak menular, termasuk diabetes, serta dampak positif lain seperti penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi dan peningkatan fungsi kognitif pada anak usia sekolah dasar.

Dosen Agribisnis Pangan Politeknik Negeri Lampung, Dita Pratiwi, menyatakan sayur dan buah penting bagi kesehatan karena kandungan serat, vitamin, dan antioksidan yang mendukung pencernaan, daya tahan tubuh, serta pencegahan penyakit kronis. Menurutnya, peningkatan konsumsi membutuhkan edukasi sejak dini, akses yang mudah dan terjangkau, serta inovasi olahan yang menarik, dimulai dari kebiasaan keluarga menyediakan sayur dan buah dalam menu harian maupun camilan.

Dita juga menyoroti kontribusi konsumsi sayur dan buah lokal terhadap ketahanan pangan dan ekonomi, karena lebih mudah didapat dan mengurangi ketergantungan impor. Namun ia mengakui tantangan seperti harga fluktuatif, keterbatasan pasokan di beberapa daerah, kebiasaan memilih makanan instan, dan kuatnya iklan makanan tidak sehat. Ia menilai regulasi yang ada mendukung pangan lokal, tetapi masih memerlukan penguatan implementasi, insentif bagi produsen pangan lokal, serta edukasi yang lebih luas.

Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan lebih dari 96 persen masyarakat Indonesia masih kurang mengonsumsi sayur dan buah. Sementara itu, konsumsi sayur dan buah per kapita di Indonesia pada 2023 disebut 240,5 gram per hari, di bawah target RPJMN Badan Pangan Nasional sebesar 286,9 gram per hari.

Di Jawa Barat, data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) menunjukkan konsumsi buah dan sayur berada di angka 6 persen dari total skala konsumsi pangan yang didominasi padi-padian. Kondisi ini menggambarkan karbohidrat masih menjadi prioritas, sedangkan buah dan sayur kerap dianggap pangan tambahan. Di sisi lain, budaya makan juga cenderung menempatkan sayur sebagai pendamping nasi dan lauk, serta buah sebagai camilan atau penutup.

Untuk mendorong akses dan konsumsi, DKPP Jawa Barat menjalankan program ASRI (Anggota Keluarga Sehat Pekarangan Lestari) yang mengajak masyarakat menanam sayur dan buah di pekarangan. Kabid Konsumsi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia DKPP Jawa Barat, Adji Sumarwan, menyebut program ini memanfaatkan lahan kosong dengan menanam tanaman pangan seperti cabai, bawang, jeruk, pepaya, serta beternak ayam dalam kelompok posyandu. Program ini disertai bantuan benih atau bibit sayur, buah, tanaman obat, dan ayam petelur, dengan harapan berkontribusi pada pencegahan dan penanganan stunting.

Pada 2024, bantuan ASRI diberikan kepada 20 kelompok di 9 kabupaten/kota: Kabupaten Bandung, Sumedang, Garut, Bogor, Majalengka, Tasikmalaya, Sukabumi, Kota Tasikmalaya, dan Kota Sukabumi. Adji menambahkan pemantauan harga dan ketersediaan pangan dilakukan melalui sistem informasi digital SIMAWAS PAGI, serta edukasi gizi seimbang dan lomba cipta menu berbasis pangan lokal yang rutin digelar bekerja sama dengan akademisi.

Dari sisi produksi, Ketua Tim Buah dan Hias Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distanhorti) Jawa Barat, Risma Fitriyani, menyatakan pemerintah juga melakukan sosialisasi dan edukasi konsumsi buah dan sayur dengan melibatkan akademisi dan komunitas. Ia menyebut pasar tani rutin digelar tiga kali sebulan, salah satunya di GOR Arcamanik, untuk memperkenalkan buah dan sayur unggulan Jawa Barat.

Risma mengatakan produksi buah dan sayur di Jawa Barat dinilai mampu memenuhi kebutuhan konsumsi. Ia menyebut total produksi mencapai 5,547 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 4,193 juta ton untuk penduduk sekitar 49 juta jiwa, sehingga Jawa Barat disebut surplus. Adapun buah yang banyak dikonsumsi meliputi pisang, pepaya, jeruk, dan semangka, sedangkan sayuran favorit antara lain bayam, kangkung, bawang merah, aneka cabai, serta kentang.

Rangkaian temuan dan pengalaman warga menunjukkan tantangan konsumsi sayur dan buah tidak hanya terkait ketersediaan, tetapi juga kebiasaan makan, pengaruh iklan, serta daya tarik makanan tinggi gula dan kalori. Upaya edukasi, penguatan akses, dan strategi budaya dinilai penting agar sayur dan buah tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan menjadi bagian utama pola makan harian.