Klepon, salah satu jajanan pasar tradisional Indonesia, dikenal sebagai bola-bola dari tepung beras ketan berisi gula merah yang direbus hingga matang. Di Kabupaten Pasuruan, tepatnya di sepanjang Jalan Raya Gempol, klepon menjadi buruan banyak orang. Deretan lapak penjualnya berjajar mulai dari gapura masuk Kabupaten Pasuruan hingga sekitar 1 kilometer ke arah timur.
Aktivitas produksi klepon di kawasan itu berlangsung sejak pagi hingga sore. Para penjual menyiapkan ratusan biji klepon setiap hari agar jajanan tersebut bisa disajikan dalam kondisi hangat.
Wiwik Andayani, salah satu karyawan di toko penjual klepon di jalur tersebut, mengatakan proses pembuatan dilakukan terus-menerus, terutama saat akhir pekan. Dalam sehari, ia menyebut adonan yang dihabiskan bisa mencapai sekitar 7–8 kilogram, dan pada akhir pekan bisa lebih banyak.
“Kalau setiap kotak isinya 9 biji, dijual Rp5000 ribu. Sehari kalau dihitung bisa 1000 biji klepon,” ujarnya sambil membuat klepon.
Pemandangan uap dari air mendidih menjadi hal yang lazim di puluhan toko oleh-oleh di kawasan itu. Menurut Wiwik, beberapa penjual membuat adonan baru setiap kurang lebih dua jam sekali agar klepon tetap hangat saat disajikan. “Semuanya selalu hangat… intinya selalu fresh,” katanya.
Di balik ramainya deretan penjual klepon di pintu masuk Pasuruan, Sarminah—ibu tiga anak—menceritakan awal perjalanannya berjualan sejak era 1990-an. Ia mengawali usaha dengan berjualan keliling aneka jajanan seperti cenil, lupis, klepon, dan lainnya.
“Saya dulu mancal, pindah-pindah tempat jual kue cenil, lupis, klepon dan jajajan lainnya. Ramai laris akhirnya saya dan suami inisiatif beri nama Klepon Wahyu pada tanggal 2 April 1997,” kata Sarminah.
Ia mengingat masa-masa berjualan di sisi jalan nasional tidak selalu mudah. Sarminah menyebut pernah beberapa kali ditertibkan petugas. “Dulu juga sering diobrak satpol pp,” tandasnya. Karena itu, ia kerap berpindah lokasi. “Ke timur, ke barat, tergantung tempat enak berjualan,” ujarnya.
Seiring meningkatnya pesanan, Sarminah dan suaminya memutuskan membeli sebidang tanah berukuran sekitar 5×7 meter untuk mengembangkan usaha. Ia juga melihat kemudian semakin banyak warga yang ikut berjualan klepon di pinggir jalan, diduga karena melihat tingginya peminat. “Nah itu, mungkin melihat ramai jadi banyak yang jual juga. Tapi nggakpapa, kata almarhum suami rejeki sudah ada yang ngatur,” ungkapnya.
Hingga kini, Sarminah mengatakan tetap mempertahankan resep lama agar kualitas rasa tidak berubah. Ia menyebut bahan yang digunakan antara lain tepung dari beras yang diselep serta pewarna hijau dari daun pandan.
Ramainya peminat klepon di jalur masuk Pasuruan turut terlihat dari para pelintas yang sengaja singgah untuk membeli. Atik, wisatawan asal Jombang, mengaku kerap berhenti di Gempol khusus untuk membeli klepon. “Rasa enak, di Jombang ada tapi nggak seperti di Pasuruan ini. Jadi kalau lewat Pasuruan wajib beli ini,” katanya.

