Di balik pengumuman hasil seleksi CPNS, tersimpan kisah panjang yang dilalui para peserta. Salah satunya datang dari Khairunnisa (24), atau akrab disapa Nisa, yang dinyatakan lulus sebagai CPNS Kementerian Agama RI untuk formasi Pranata Humas Ahli Pertama.
Nisa merupakan anak kedua dari empat bersaudara dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai salesman sekaligus kurir obat-obatan di apotek, sementara ibunya mengurus rumah tangga, menjahit tas bedcover, serta memasak untuk katering aqiqah.
Sejak usia 10 tahun, Nisa mulai membantu kebutuhan sekolah dengan mengajar les privat anak-anak tetangga dan mengaji. Ia mengaku kerap menghadapi kenyataan tertahan mengikuti ujian karena belum melunasi biaya sekolah. Namun, kondisi itu tidak membuatnya menyerah. Ia belajar dengan sungguh-sungguh hingga menjadi juara umum saat lulus SMP.
Selepas SMP, Nisa melanjutkan pendidikan di SMA unggulan CT ARSA Foundation Deli Serdang melalui beasiswa penuh yang mencakup biaya asrama dan kebutuhan hidup sehari-hari. “Kalau bukan karena beasiswa, mungkin saya sudah berhenti sekolah sejak SMP,” ujarnya di Medan, Selasa (17/6/2025).
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Beasiswa kembali menjadi penopang. Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di beberapa tempat, namun mengalami dua kali pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam waktu singkat. Situasi tersebut sempat mengguncang semangatnya, meski ia menyebut tekadnya tidak padam.
Dalam masa menganggur, Nisa memutuskan mendaftar CPNS. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai penjaga kios es teh. Ia mengatakan tak jarang mendapat pandangan meremehkan dari orang sekitar. “Sering ditanya, ‘Kok sarjana jualan es teh?’ Saya cuma bisa senyum. Mereka tidak tahu kalau saya sedang memperjuangkan masa depan yang lebih baik lagi,” katanya.
Di sela bekerja, Nisa mempersiapkan diri dengan belajar mandiri tanpa bimbingan belajar. Ia mengandalkan buku dan video YouTube. Saat hasil Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) diumumkan, ia berada di peringkat dua dan melanjutkan ke Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Pada akhirnya, namanya tercantum sebagai salah satu peserta yang lulus.
Nisa mengingat momen ketika mengetahui hasil kelulusan. Ia membuka pengumuman di tempat kerja dan mencari namanya menggunakan nomor peserta. “Begitu lihat hasilnya, saya nangis. Saya langsung video call orang tua. Ekspresinya sama, kami semua terharu banget karena ini adalah tes CPNS pertama saya. Alhamdulillah,” tuturnya.
Ia menyebut tidak memiliki alasan spesifik memilih Kementerian Agama sebagai instansi tujuan, namun meyakini jalannya sebagai bagian dari takdir yang telah Allah siapkan. Nisa juga merujuk pada QS Ghafir ayat 60 tentang doa serta QS Al-Ankabut ayat 69 mengenai kesungguhan dalam menempuh jalan.
Kini, Nisa berharap kelulusannya menjadi titik balik bagi keluarganya. Ia ingin membalas pengorbanan orang tua dan membantu masa depan adik-adiknya. “Kelulusan ini bukan hanya milik saya. Ini untuk orang tua saya, untuk keluarga saya, dan untuk semua yang pernah diremehkan karena hidupnya serba kekurangan,” katanya.
Meski telah meraih kelulusan, Nisa menilai perjuangan belum selesai. Baginya, hasil ini bukan garis akhir, melainkan langkah awal untuk menapaki perjalanan berikutnya dengan keyakinan dan kesungguhan.

