Khanom Bueang menjadi salah satu jajanan kaki lima yang kerap dicari saat berkunjung ke Thailand. Camilan mungil ini dikenal lewat bentuknya yang khas: cangkang tipis berwarna cokelat yang dilipat. Sekilas tampilannya mengingatkan pada taco mini, namun sensasi saat digigit menghadirkan karakter berbeda lewat kulit yang renyah dan isian lembut dengan rasa manis, gurih, serta sedikit asin.
Menurut Thailand Foundation, khanom bueang merupakan jajanan tradisional Thailand yang mudah dikenali dari kulitnya yang tipis dan renyah, biasanya dilipat menyerupai setengah lingkaran. Bagian dalamnya diisi krim lembut yang dibuat dari putih telur kocok atau santan, lalu ditambahkan aneka topping.
Secara umum, Khanom Bueang hadir dalam dua variasi utama, yakni manis dan gurih. Pada versi manis, topping yang digunakan adalah foy thong atau “benang emas” manis yang terbuat dari kuning telur, bertekstur lembut dengan warna kuning-oranye. Sementara versi gurih menggunakan isian yang lebih beragam, mulai dari udang cincang, kelapa parut, hingga ketumbar.
Daya tarik camilan ini terletak pada perpaduan tekstur dan rasa. Kulitnya yang tipis memberi sensasi garing di awal, kemudian disusul kelembutan krim serta rasa topping yang kaya. Sejumlah penjual juga menambahkan kacang cincang atau buah kering untuk menghadirkan variasi rasa yang lebih kompleks.
Di balik popularitasnya sebagai jajanan jalanan, Khanom Bueang memiliki sejarah panjang. Mengacu pada Lion Brand, camilan ini disebut telah ada sejak ratusan tahun lalu dan konon berasal dari lingkungan istana kerajaan di wilayah Thailand Tengah. Khanom Bueang juga diyakini mendapat inspirasi dari hidangan asal India yang dimasak di atas ubin terakota. Dari konteks inilah muncul istilah “krabueng”, yang dalam bahasa Thailand berarti “ubin”.
Jejak keberadaan Khanom Bueang disebut dapat ditemukan pada lukisan dinding di kuil-kuil periode Sukhothai (1238–1438). Selain itu, literatur klasik Thailand seperti Khun Chang Khun Paen dari periode Ayutthaya (1351–1767) juga menyebutkan makanan ini.
Resepnya pun terus beradaptasi seiring waktu. Pada awalnya, bahan utama terdiri dari tepung beras, santan, dan sedikit garam. Kemudian, berbagai isian seperti udang dan kelapa mulai diperkenalkan, yang disebut mencerminkan kekayaan bahan makanan di dataran tengah Thailand. Thailand Foundation menyebut, “Seiring adaptasi hidangan ini, isian seperti udang dan kelapa pun diperkenalkan, mencerminkan kekayaan sumber daya alam di wilayah tersebut.”
Kini, Khanom Bueang mudah dijumpai di berbagai sudut Bangkok. Mengacu pada Thai Est, camilan ini dapat ditemukan di banyak lokasi, termasuk Terminal 21 Food Court, sejumlah pasar malam di ibu kota, hingga pasar terapung.

