Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Starbucks Coffee Company untuk memperkuat ekosistem kopi nasional dan mendorong peningkatan kesejahteraan petani. Penandatanganan yang berlangsung di Jakarta itu menegaskan komitmen kedua pihak dalam meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, serta daya saing kopi Indonesia di pasar global.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menyebut kerja sama tersebut sebagai momentum penting bagi pengembangan komoditas kopi nasional. Ia mengatakan pemerintah mengambil langkah strategis untuk memberdayakan petani kopi kecil, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi kopi global. Abdul Roni juga menyampaikan apresiasi atas konsistensi Starbucks dalam mendukung petani Indonesia.
Dalam kemitraan bertajuk TEKAD (Tani, Ekspor, Kopi, Ajar, dan Dana), Starbucks mendukung empat area kolaborasi utama. Program itu meliputi Seed and Seedling Donation Program (donasi benih dan bibit), Agronomy Trainer Development (pengembangan pelatih agronomi), Coffee Milling Equipment Donation (donasi peralatan pengolahan kopi hemat air), serta Biological Pest Control Trial in Aceh (uji coba pengendalian hama biologis di Aceh). Seluruh program direncanakan berjalan hingga 2027 di sejumlah wilayah penghasil kopi, antara lain Aceh, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sumatra Utara, dan Sulawesi Selatan.
Presiden Starbucks Asia Pasifik, Chanda Beppu, menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung Indonesia sebagai salah satu produsen kopi arabika penting dunia. Ia menyatakan, setelah lebih dari lima dekade membeli kopi dari kepulauan Indonesia, MoU ini menjadi tonggak dalam kemitraan jangka panjang Starbucks dengan komunitas petani.
General Manager Starbucks Farmer Support Center, Masyitah Daud, menambahkan bahwa pusat pelatihan agronomi Starbucks di Sumatra telah menjangkau ribuan petani melalui distribusi jutaan benih, pendampingan, serta penguatan kelembagaan tani sejak 2021.
MoU tersebut juga melibatkan Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI). Pemimpinnya, Dini Astika Sari, menyampaikan bahwa ICCRI berperan dalam pengembangan teknologi kopi berkelanjutan. Menurutnya, program bersama Starbucks mencakup peningkatan bahan tanam, pengendalian hama berbasis hayati, hingga praktik pengolahan rendah emisi.
Selain memperkuat sektor hulu melalui peningkatan kapasitas petani dan dukungan ketelusuran, kerja sama ini juga dikaitkan dengan sejumlah prioritas pengembangan kopi yang menjadi fokus pemerintah. Prioritas itu meliputi peningkatan produktivitas perkebunan rakyat, penguatan kemitraan petani dan industri, penerapan praktik budidaya adaptif serta ramah lingkungan, peningkatan pendapatan petani, hingga keterlibatan generasi muda dalam usaha perkebunan. Pemerintah juga mendorong kolaborasi riset dan teknologi, mulai dari pengembangan benih unggul, pelatihan, sampai penguatan teknologi pascapanen.
Di sisi hilir, kerja sama menekankan penguatan industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kopi. Langkah tersebut diarahkan melalui diversifikasi produk olahan, peningkatan sertifikasi mutu, serta perluasan akses ke pasar premium. Hilirisasi dipandang penting agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari rantai nilai industri kopi di tingkat nasional maupun global.
Kemitraan ini juga disebut mendukung Program ABT Kementan untuk komoditas kopi tahun 2025–2026 yang menargetkan pengembangan kawasan kopi seluas 99.500 hektare serta penyediaan 99,5 juta batang benih unggul.
Kementan menyatakan harapan agar kolaborasi dengan sektor swasta dapat memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim, membuka akses teknologi dan pasar premium, serta mendorong regenerasi petani muda. Dengan sinergi yang terarah dan berkelanjutan, kerja sama ini diharapkan memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi utama dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga petani di berbagai daerah.

