BERITA TERKINI
Kemendikdasmen dan CoE Luncurkan Enam Dokumen Acuan Edukasi Gizi untuk Program Makan Bergizi Gratis

Kemendikdasmen dan CoE Luncurkan Enam Dokumen Acuan Edukasi Gizi untuk Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta, 21 November 2025—Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Centre of Excellence (CoE) Pemenuhan Pangan dan Gizi meluncurkan enam dokumen resmi sebagai acuan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus integrasi edukasi gizi di lingkungan sekolah. Peluncuran yang berlangsung di Jakarta ini juga menampilkan praktik baik Champion Edukasi Gizi serta pengalaman dan harapan siswa terkait pelaksanaan MBG.

CoE Pemenuhan Pangan dan Gizi terdiri dari Bappenas, Badan Gizi Nasional (BGN), UNICEF, IPB University, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, serta mitra lainnya. Peluncuran dokumen tersebut menegaskan peran CoE sebagai pusat unggulan nasional yang mendukung implementasi MBG.

Koordinator CoE PPG Nasional IPB University, Prof. Dr. Ir. Drajat Martianto, M.Si, menjelaskan CoE dibentuk untuk memperkuat empat fungsi utama dalam pelaksanaan MBG. “CoE mempunyai empat fungsi, yaitu peningkatan kapasitas, kedua melakukan riset dan inovasi, ketiga melakukan manajemen pengetahuan dengan aktivitas melakukan dokumentasi dan pencatatan perjalanan MBG, mencatat praktik baik dan pembelajaran, keempat melakukan formulasi integrasi sistem pangan, gizi, kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.

Menurut Drajat, penyusunan dokumen dilakukan secara kolaboratif karena MBG merupakan program lintas sektor yang melibatkan berbagai aspek, mulai dari pendidikan, gizi, pangan, pembiayaan, hingga keamanan pangan. Ia menekankan keterlibatan banyak kementerian dan lembaga diperlukan untuk memastikan kebijakan sejalan, memperkuat kepemilikan nasional, memudahkan implementasi di daerah, serta memungkinkan dokumen diadopsi secara resmi oleh semua jalur sekolah.

Drajat juga menyebut dokumen-dokumen tersebut disusun untuk menjawab persoalan gizi mendesak pada anak usia sekolah. Masalah yang disorot antara lain kurangnya asupan zat gizi penting seperti protein, zat besi, zinc, dan kalsium; anemia pada remaja putri; pola makan tidak sehat yang tinggi gula, garam, dan lemak; serta triple burden gizi yang masih terjadi bersamaan. Ia menilai sekolah menjadi tempat strategis untuk edukasi gizi karena memiliki struktur pembiasaan yang kuat dan memungkinkan praktik nyata melalui kegiatan makan bersama dalam MBG.

Dalam peluncuran itu, salah satu praktik baik edukasi gizi ditunjukkan oleh SMPN 4 Kota Sorong yang berupaya memperbaiki kebiasaan konsumsi pangan di sekolah. Aisyah Aliah, siswa SMPN 4 Sorong, mengatakan sebelumnya mereka kesulitan menghindari jajanan kurang sehat, namun situasi berubah dengan adanya program makan di sekolah. “Kita belum ada MBG, kami pusing untuk menghindari jajanan yang kurang bergizi, tapi dengan adanya MBG kami mendapatkan makanan bergizi,” ujarnya.

Dinas Pendidikan Kota Sorong, Ihdora Aru, menilai program tersebut berdampak pada semangat belajar siswa. “Anak-anak sekarang datang dengan semangat. Mereka menunggu jam makan MBG dengan gembira, dan sejauh ini semua sehat. Tempat penyediaannya juga aman,” katanya.

Kegiatan peluncuran modul edukasi gizi juga dihadiri siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA yang berbagi pengalaman penerapan edukasi gizi di sekolah masing-masing. Muhammad Adrian Anwar, murid SDN Cikini 01 Pagi, menyampaikan sekolahnya rutin mengadakan kegiatan membawa bekal sehat dan makan bersama sehingga siswa terbiasa mencoba beragam sayur dan lauk bergizi. “Edukasi gizi di sekolah seru dan menyenangkan karena setiap hari Kamis membawa bekal sehat seperti sayur, ikan, buah, dan susu,” tuturnya.

Keiko dari SMPN 1 Kota Bogor menyebut edukasi gizi memberinya pemahaman baru tentang pentingnya keseimbangan makanan sehari-hari. “Setelah adanya edukasi gizi, aku sadar kalau makanan sehat itu tidak sekadar bergizi, tetapi juga harus seimbang,” ujarnya. Ia juga mulai membiasakan pola hidup lebih teratur, seperti tidak melewatkan sarapan, memperbanyak minum air putih, tidur cukup, dan berolahraga. Keiko menyatakan ingin membagikan pengetahuan tersebut kepada teman sebaya melalui gerakan Aku Sehat, Supportive, dan Berdaya Unggul (GASBU). “Aku ingin membantu mengampanyekan hidup sehat lewat gerakan Aku Sehat, Supportive, dan Berdaya Unggul (GASBU),” katanya.

Pengalaman lain disampaikan Ulima Asri dari SMAN 6 Kota Tangerang Selatan. Ia menjelaskan edukasi gizi di sekolahnya selama ini diberikan melalui kegiatan UKS, PMR, dan PIK-R. “Teman-teman PMR dan PIK-R memberikan kami edukasi terkait pola makan yang sehat, keseimbangan hidup yang sehat, serta melakukan mitigasi terkait anemia dengan pemberian tablet tambah darah,” ujarnya. Ia menambahkan sekolah juga mendukung penerapan edukasi gizi melalui pembiasaan membawa bekal sehat dari rumah.

Ulima berharap peluncuran modul edukasi gizi dapat memperluas akses informasi bagi seluruh peserta didik. “Harapan aku dengan terciptanya modul ini, teman-teman di seluruh Indonesia dapat mengakses terkait edukasi gizi itu sendiri. Karena kita jadi paham betul apa yang masuk ke dalam tubuh kita,” tuturnya. Sebagai Duta SMA Puteri Provinsi Banten, ia juga menyatakan ingin berperan aktif menyebarluaskan informasi gizi kepada pelajar lain.

Melalui acuan yang terstandar dan praktik baik yang terus berkembang, Kemendikdasmen dan CoE mendorong agar Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menyediakan pangan bergizi, tetapi juga membangun pemahaman dan kebiasaan makan sehat bagi peserta didik. Kolaborasi lintas kementerian, dukungan sekolah, serta partisipasi siswa diharapkan memperkuat pelaksanaan edukasi gizi di lingkungan pendidikan.