Keluhan terkait menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di Kota Yogyakarta mencuat setelah sejumlah orang tua murid menilai makanan yang dibagikan belum memenuhi kebutuhan gizi anak. Mereka menyoroti menu yang cenderung berupa makanan kering dan dinilai belum menghadirkan komposisi nutrisi seimbang, terutama dari sisi protein hewani.
Sejumlah orang tua menyebut menu yang diterima siswa selama Ramadan berbeda dibanding hari biasa. Jika sebelumnya anak mendapat nasi lengkap dengan lauk, sayur, dan buah, selama Ramadan menu disebut lebih didominasi makanan kering dan dinilai kurang variatif.
Ruswanti, salah satu orang tua siswa SMPN 8 Kota Jogja, menuturkan anaknya sempat menerima menu berupa roti kecil menyerupai donat, kacang telur kemasan kecil, satu buah jeruk, dan susu kotak kecil. Menurutnya, anak kerap tidak mengambil atau tidak menghabiskan makanan tersebut karena kurang sesuai selera.
“Kadang dibawa pulang tapi tidak dibuka. Jadi mubazir. Kalau saya pribadi kurang begitu suka, mungkin lebih baik diganti uang saku saja,” kata Ruswanti, Rabu (25/2/2026).
Ia menilai perbedaan selera makan anak berpotensi membuat sebagian menu tidak dikonsumsi. Kondisi itu, menurutnya, dapat memunculkan pemborosan ketika makanan akhirnya terbuang.
Sementara itu, orang tua siswa SMPN 13 Kota Jogja yang enggan disebutkan namanya menyampaikan menu MBG selama Ramadan umumnya terdiri atas roti, kurma, telur rebus, dan jajanan pasar seperti onde-onde. Ia membandingkan dengan menu hari biasa yang menyajikan nasi, lauk, sayur, dan buah, bahkan sesekali ada menu seperti burger atau spageti.
“Mungkin dibuat seperti itu supaya bisa dimakan saat berbuka. Anak saya tidak mengeluh, yang penting aman dikonsumsi,” katanya.
Meski tidak mempersoalkan secara langsung, ia menilai komposisi menu MBG Ramadan belum sepenuhnya mencerminkan konsep gizi seimbang. Ia juga menyoroti kebersihan wadah makanan yang digunakan dalam distribusi program tersebut.
“Yang penting jangan sampai ada keracunan. Tapi kami juga tidak tahu proses pencucian wadahnya seperti apa. Kalau sesuai standar tentu syukur,” ungkapnya.
Menanggapi masukan tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa esensi MBG bukan sekadar menyediakan makanan gratis, melainkan memastikan asupan nutrisi yang memadai bagi anak dalam masa pertumbuhan.
“Kita akan komunikasikan, aslinya menu yang diharapkan itu mengandung protein hewani,” katanya.
Hasto menyampaikan protein hewani penting karena mengandung zat gizi spesifik seperti omega-3 yang berpengaruh pada perkembangan otak dan tubuh anak. Ia meminta SPPG sebagai penyedia MBG tetap mengacu pada tujuan awal program.
“Untuk pertumbuhan anak, protein hewani harus diutamakan. Yang mengandung omega-3 lebih diutamakan, karena ini berkaitan dengan pertumbuhan otak dan tubuh,” ujarnya.
Ia berharap dapur penyedia MBG tetap kreatif dalam menyusun menu selama Ramadan. Menurutnya, menu sederhana seperti telur atau ikan lebih relevan dibanding makanan yang didominasi karbohidrat tanpa sumber protein hewani.
“Kalau Ramadan dikasih telur atau ikan masih sesuai. Harapan saya tidak didominasi karbohidrat tanpa protein hewani,” katanya.

