Suasana duka menyelimuti rumah Hasan Yacob di Gampong Lamlagang, Banda Aceh. Kerabat datang silih berganti untuk menyampaikan belasungkawa kepada Hasan, ayah dari Letkol Laut (E) Irfan Suri, salah satu personel KRI Nanggala-402.
Hasan Yacob yang berusia 78 tahun mengatakan dirinya pasrah dan menyerahkan semua yang terjadi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Irfan Suri dinyatakan gugur dalam tugas bersama 52 personel lainnya yang berada di dalam Kapal Selam KRI Nanggala-402.
Menurut keluarga, Irfan selama ini bertugas di Markas Besar TNI Angkatan Laut di Jakarta. Ia lahir di Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada 4 Januari 1981. Irfan merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan M Hasan Yacob dan Rohani (almarhumah), dan telah mengabdi sebagai prajurit TNI AL sejak 1999.
Nama Irfan, alumni SMA Modal Bangsa (Mosa) Banda Aceh, tercantum dalam manifes kru kapal selam pada nomor urut ke-51 dengan status non-ABK.
Hasan Yacob mengungkapkan sudah lebih dari dua tahun tidak bertemu putranya. Dua pekan sebelum musibah, ia mengaku bermimpi kehilangan kedua kakinya. Mimpi itu membuatnya cemas dan memunculkan pertanyaan tentang ujian yang akan dihadapi keluarganya.
“Mimpi itu benar-benar membuat saya cemas, saya berpikir ujian apa yang akan kami terima, dan saya berdoa agar Allah tidak memberi kami musibah yang kami tidak sanggup menjalaninya,” kata Hasan Yacob saat ditemui di kediamannya, Senin (26/4/2021).
Di mata sang ayah, Irfan dikenal sebagai anak yang cerdas, patuh, pendiam, dan rajin beribadah. Hasan menyebut sifat pendiam Irfan justru membuatnya memiliki kepedulian kepada seluruh anggota keluarga.
“Bagi saya, kepatuhannya dan sifatnya yang pendiam ini menjadi kenangan tersendiri. Meski kami tidak membeda-bedakan anak-anak kami, tapi dia memang sosok yang pendiam tapi peduli pada semua anggota keluarga,” ujar Hasan.
Kakak Irfan, Akhyar Tarfi, menceritakan keluarga mendapat kabar bahwa Irfan berada di dalam kapal selam yang hilang kontak setelah istri Irfan menghubunginya dari Bogor pada Rabu sebelumnya. Keluarga besar di Aceh kemudian berdoa agar Irfan dan seluruh kru dapat ditemukan selamat, meski akhirnya kabar duka yang diterima.
“Kami tak punya firasat apapun atau hal-hal lain yang terkait musibah ini. Kita sangat terkejut mendengar kejadian ini,” kata Akhyar.
Akhyar juga mengenang kedekatannya dengan Irfan sejak kecil. Karena usia yang tidak terpaut jauh, keduanya kerap disangka kembar, terlebih orangtua mereka sering membelikan baju yang sama.
“Waktu kami kecil, orangtua kami sering membelikan baju yang sama, sehingga banyak orang sering salah panggil nama. Bahkan sering juga dikira kembar, karena postur tubuh yang sama, dan wajah yang sangat mirip,” kenang Akhyar.
Menurut keluarga, cita-cita Irfan menjadi prajurit sudah muncul sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Keinginan itu juga didukung oleh abangnya, Letkol Muhammad Ridha, yang lebih dulu berkarier di TNI dan kini menjabat sebagai Kasrem 011 Lilawangsa, Aceh Utara.
Irfan Suri meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang tinggal di Bogor, Jawa Barat. Kepergiannya dalam musibah KRI Nanggala-402 menjadi duka mendalam bagi keluarga di Aceh maupun keluarganya di perantauan.

