Makan umumnya dipahami sebagai aktivitas mengonsumsi makanan atau minuman untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Namun, sejumlah temuan riset menunjukkan bahwa kebiasaan saat makan juga dapat memberi gambaran tentang dinamika hubungan romantis seseorang.
Salah satu contoh yang kerap terjadi adalah saling mengambil makanan dari piring pasangan. Studi yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society, Biological Sciences menyebut tindakan semacam ini dipandang sebagai bentuk pertukaran kooperatif. Pengalaman tersebut dinilai bisa memperkuat ikatan dan meningkatkan kedekatan.
Hal serupa juga dikaitkan dengan kebiasaan berbagi hidangan yang sama atau menyuapi pasangan. Dalam sebuah eksperimen yang melibatkan sekelompok lajang, dua peserta disebut memiliki potensi kecocokan yang kuat setelah diminta berbagi makanan penutup. Dalam eksperimen itu, peserta menggunakan kacamata hitam yang membuat mereka tidak bisa melihat satu sama lain sebelumnya. Interaksi yang terbangun bahkan disebut berkembang cepat hingga saling menyuapi dan berciuman.
Spesialis bahasa tubuh Tracey Cox menilai, seseorang umumnya tidak akan berbagi makanan atau menyuapi orang lain jika tidak menganggapnya menarik secara seksual.
Di sisi lain, berbagi makanan dengan orang lain dapat memunculkan persoalan ketika seseorang sudah memiliki pasangan, terlebih bila dilakukan dengan mantan. Penelitian yang dikutip Cornell Chronicle menemukan bahwa orang yang sedang menjalin hubungan cenderung menafsirkan tindakan pasangan yang berbagi makanan dengan orang lain sebagai bentuk berbagi keintiman. Temuan itu juga menyebut kecemburuan yang muncul bisa lebih besar dibanding interaksi lain, seperti menjawab email atau melakukan percakapan telepon terkait urusan kantor.
Selain soal berbagi makanan, momen makan malam juga disebut memiliki peran penting, terutama pada fase awal berkenalan atau berkencan. Makan malam bersama dinilai menjadi kesempatan untuk bersantai, merasa nyaman, dan membuka ruang percakapan agar kedua pihak saling mengenal lebih jauh.
Bagi pasangan yang sudah resmi berkomitmen, termasuk yang telah menikah, makan malam bersama dapat menjadi waktu untuk saling memandang, memahami, dan membicarakan hal-hal penting. Aktivitas ini juga dapat membuat pasangan merasa istimewa, dicintai, dan diapresiasi.
Di luar aktivitas makan, kedekatan juga dapat dibangun melalui gestur sederhana seperti bergandengan tangan. Situs Seventeen menyebutnya sebagai bentuk komunikasi nonverbal. Studi psikolog Matthew Hertenstein menunjukkan manusia mampu mengirim sinyal melalui sentuhan dengan cukup akurat, sehingga sentuhan dapat membantu menyampaikan perasaan ketika seseorang kesulitan mengungkapkannya lewat kata-kata.
Keintiman kecil lain, seperti berpelukan saat duduk bersama atau saat bertemu dan berpisah, juga dapat menjadi penanda bahwa seseorang menikmati kedekatan dengan pasangannya. Sebuah makalah penelitian yang dikutip PsychCentral turut menyoroti pentingnya sentuhan dalam hubungan romantis dan mengaitkannya dengan kondisi hubungan yang baik.

