Di lereng Gunung Bromo, masyarakat Suku Tengger dikenal memegang kuat tradisi dan nilai harmoni dengan alam. Namun, perkembangan teknologi dan derasnya arus globalisasi perlahan memengaruhi kehidupan remaja Tengger, terutama pada kebiasaan makan dan gaya hidup.
Dalam keseharian, pola makan tradisional masyarakat Tengger sebelumnya banyak bertumpu pada hasil bumi seperti kentang, jagung, sayur-mayur, serta tempe buatan sendiri. Pola ini digambarkan sederhana, dekat dengan alam, dan bergizi. Seiring waktu, sebagian remaja mulai beralih pada makanan cepat saji dan instan.
Berdasarkan wawancara pada remaja dalam penelitian Muniroh dkk (2025), sejumlah remaja mengaku lebih memilih mi instan atau ayam goreng tepung dibandingkan nasi jagung dan sayur rebus. Mereka menilai makanan modern lebih praktis, enak, dan dianggap kekinian. Media sosial serta iklan makanan disebut turut membentuk persepsi bahwa makanan cepat saji identik dengan gaya hidup modern. Pergeseran ini menunjukkan perubahan cara pandang, dari makanan sebagai bagian kearifan lokal menjadi bagian dari ekspresi gaya hidup.
Smartphone dan media sosial kini menjadi bagian penting dari aktivitas remaja Tengger. Dengan akses internet yang semakin luas, mereka terpapar tren global termasuk tren kuliner. Konten mukbang, video kuliner, hingga food challenge di TikTok dan Instagram menjadi rujukan untuk mencoba makanan baru yang sering kali tinggi gula, garam, dan lemak. Perubahan ini dinilai mendorong pola konsumsi yang lebih dipengaruhi keinginan dibanding kebutuhan gizi.
Penelitian tersebut juga mencatat, sebagian besar remaja tidak lagi menjadikan pertimbangan kesehatan atau kearifan lokal sebagai faktor utama dalam memilih makanan. Rasa, tampilan, dan aspek eksistensi sosial—sesuatu yang bisa diunggah dan dibagikan—menjadi lebih dominan.
Pergeseran pola konsumsi ini berjalan beriringan dengan perubahan gaya hidup. Jika sebelumnya remaja Tengger banyak bergerak karena membantu orang tua di ladang atau berjalan kaki ke sekolah, kini sebagian aktivitas fisik tergantikan oleh penggunaan gawai. Kebiasaan duduk lama di depan ponsel dan laptop membuat mereka kurang aktif. Waktu tidur pun dilaporkan berkurang karena sebagian remaja terbiasa begadang untuk mengakses media sosial. Kondisi ini disebut berpotensi meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga gangguan metabolisme di masa depan.
Dalam budaya Tengger yang menjunjung keseimbangan hidup dengan alam, pola hidup yang semakin pasif dipandang sebagai tantangan karena berpotensi mengikis nilai lokal. Bagi masyarakat Tengger, makanan tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan gizi, melainkan bagian dari filosofi hidup. Panen dimaknai sebagai wujud syukur, dan makanan memiliki nilai spiritual. Namun, nilai-nilai tersebut dinilai mulai tergerus di kalangan generasi muda.
Peneliti juga menemukan sebagian remaja tidak lagi terlibat aktif dalam tradisi makan bersama keluarga maupun kegiatan pertanian. Mereka lebih sering makan sendiri, termasuk sambil menggunakan gawai. Padahal, dalam tradisi Tengger, makan bersama bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi juga sarana memperkuat ikatan keluarga serta menanamkan nilai kebersamaan.
Hasil penelitian mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong perubahan kebiasaan makan dan gaya hidup remaja Tengger, antara lain paparan media sosial dan budaya global, urbanisasi dan pariwisata, kurangnya edukasi gizi berbasis budaya, serta perubahan peran keluarga.
Meski demikian, perubahan tidak selalu dipandang sepenuhnya negatif. Modernitas dinilai dapat berjalan berdampingan dengan tradisi jika masyarakat mampu menyeleksi pengaruh luar secara bijak. Salah satu pendekatan yang disebut berpotensi menjadi solusi adalah edukasi gizi berbasis budaya, misalnya melalui kampanye “Bangga Makan Pangan Lokal” atau pelatihan memasak kreatif berbahan tradisional agar lebih menarik bagi remaja tanpa memutus akar budaya. Sekolah dan lembaga masyarakat juga dinilai memiliki peran dalam menanamkan kearifan lokal melalui kegiatan sehari-hari, sehingga remaja Tengger tidak hanya menjadi penerima tren global, tetapi juga pelestari tradisi dengan cara yang relevan dengan perkembangan zaman.

