Tahu gimbal dan lumpia selama ini menjadi ikon kuliner Semarang, Jawa Tengah. Namun, kekuatan kuliner Kota Atlas dinilai tidak hanya bertumpu pada cita rasa dan ragam makanan khas, melainkan juga pada keberagaman yang tumbuh di tengah masyarakat dan ikut membentuk ekosistem bisnis kuliner.
Perpaduan warisan Jawa, Tionghoa, Arab, hingga kolonial Belanda tercermin dalam berbagai pilihan makanan. Keberagaman itu juga terlihat pada bisnis kuliner yang berjalan berdampingan, termasuk usaha dengan sajian halal maupun nonhalal.
Berdasarkan pemetaan merchant dan insight rutin ESB di Semarang, pelaku usaha dengan segmen berbeda dapat berbagi ruang tanpa gesekan. Temuan tersebut dipandang menunjukkan bahwa toleransi tidak hanya hadir dalam kehidupan sosial, tetapi juga memengaruhi dinamika bisnis kuliner di kota tersebut.
“Ini bukan sesuatu yang sengaja kami cari, tetapi ditemukan begitu saja saat proses mapping merchant di lapangan. Semarang memiliki toleransi yang sudah mendarah daging, dan hal itu turut membentuk bisnis kuliner di sini untuk terus tumbuh dengan menawarkan beragam cita rasa bagi para pecinta kuliner,” kata Co-Founder & CEO ESB Gunawan dalam keterangan resmi yang diterima Indoraya.News, Jumat (11/9/2026) malam.
Geliat sektor ini terlihat dari data pertumbuhan usaha makan dan minum. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum pada triwulan II 2026 tumbuh 12,80 persen secara tahunan. Angka itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang tercatat 5,71 persen maupun pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Aktivitas merchant food and beverage (F&B) di Semarang yang menggunakan layanan ESB juga menunjukkan peningkatan. Pada Januari hingga Juli 2026, transaksi pada outlet yang sama naik 8,3 persen, sementara omzet meningkat 6,6 persen dibandingkan periode sebelumnya. Data tersebut mengindikasikan pertumbuhan tidak semata berasal dari munculnya usaha baru, melainkan juga dari peningkatan transaksi pada merchant yang sudah berjalan.
Dari sisi metode pembayaran, 75,4 persen transaksi tercatat dilakukan secara non-tunai. Aktivitas konsumen paling ramai terjadi sekitar pukul 19.00, terutama pada rentang jam makan malam pukul 18.00 hingga 21.00.
Gunawan menilai kenaikan transaksi pada outlet yang sama mengindikasikan adanya pelanggan yang kembali berkunjung, bukan sekadar kunjungan sesaat. “Data di Semarang menunjukkan hal yang menggembirakan. Transaksi tumbuh, tetapi yang membuat kami senang adalah pertumbuhannya terjadi di toko-toko yang sama, bukan hanya karena ada merchant baru yang bergabung. Artinya, pelanggan benar-benar datang kembali,” ujarnya.
Meski demikian, pertumbuhan bisnis kuliner juga dibayangi tekanan biaya bahan baku. BPS Jawa Tengah mencatat kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bulanan pada Agustus 2026 dengan andil 0,28 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas, seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan buncis, disebut ikut menekan biaya operasional pelaku usaha.
Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2026 tercatat 3,08 persen. Kondisi ini mendorong pelaku usaha mencari cara menjaga margin tanpa membebani konsumen melalui kenaikan harga.
Lead Strategist F&B Operations sekaligus Co-Founder & Managing Partner GASTRO F&B Consulting, Thomas Pangaribuan, menekankan pentingnya pengelolaan biaya dan efisiensi operasional. “Agar bisnis bisa scale up dan tetap relevan di tengah dinamika biaya bahan baku, para pebisnis kuliner tidak boleh hanya mengandalkan cita rasa. Kontrol terhadap Cost of Goods Sold (COGS), standardisasi resep untuk menekan risiko food waste, serta efisiensi rantai pasok dapur merupakan fondasi agar bisnis kuliner mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” kata Thomas.
Perubahan perilaku konsumen juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha. Co-founder & COO Sorak Sorai, Panama Canteen, dan Babakopitiam, Tadeo Christoga, mengatakan sensitivitas konsumen terhadap harga dan tren kuliner bergerak cepat. “Sebagai pelaku usaha F&B lokal, kami merasakan langsung bagaimana sensitivitas konsumen terhadap harga dan tren kuliner bergerak sangat cepat. Kunci konsistensi kami dalam menjaga kualitas sekaligus profitabilitas bisnis adalah dengan cermat membaca data operasional harian,” ujarnya.
Menurut Tadeo, pemahaman terhadap harga pokok penjualan (HPP) dan pergerakan stok secara real-time membantu pelaku usaha menyusun strategi promosi tanpa harus mengorbankan margin.
Upaya memperkuat ekosistem kuliner Semarang juga dilakukan melalui Kopdar Racik Bisnis F&B yang digelar ESB bersama komunitas TDA (Tangan Di Atas) Semarang. Forum bertajuk “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat” itu menjadi ruang bagi pemilik dan pengelola bisnis F&B untuk bertukar pengalaman dan strategi, sekaligus bagian dari roadshow nasional ESB di berbagai kota sepanjang 2026.
Dalam forum tersebut, ESB memperkenalkan sejumlah solusi teknologi untuk membantu pelaku usaha mengelola bisnis lebih efisien. ESB POS disebut membantu memantau penjualan, mengontrol stok bahan baku, dan menghitung HPP secara real-time. ESB Order mendukung pemesanan serta pembayaran melalui kode QR untuk dine-in maupun takeaway.
Selain itu, ESB Core atau ERP menyediakan data stok dan inventaris secara real-time untuk membantu menekan food waste dan mengendalikan margin. Adapun ESB OLIN yang berbasis kecerdasan buatan digunakan untuk menganalisis data transaksi, memberikan insight bisnis, rekomendasi promosi, hingga prediksi kebutuhan stok.
“Pada akhirnya, bisnis kuliner itu soal konsistensi. Konsisten rasanya, konsisten juga untungnya. Kalau dapur tahu persis stoknya dan kasir tahu persis angkanya, pemilik usaha bisa fokus pada hal yang membuat Semarang istimewa: racikan bumbu dan resep yang diwariskan turun-temurun. Itu yang kami ingin bantu jaga melalui ESB,” tutup Gunawan.