Pameran Jogja International Food & Horeca Expo (JIFHEX) 2026 yang digelar di Jogja Expo Center (JEC), Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 28–30 Agustus 2026, menempatkan digitalisasi sebagai salah satu fokus untuk mendorong penguatan bisnis kuliner di berbagai daerah.
CEO dan Co-Founder ESB (Esensi Solusi Buana) Gunawan Woen mengatakan partisipasi perusahaannya dalam JIFHEX merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung digitalisasi bisnis kuliner. Ia menyebut pengunjung dapat berkonsultasi terkait kebutuhan sistem operasional, sekaligus melihat contoh integrasi POS F&B, sistem pemesanan online, manajemen stok, hingga sistem ERP agar bisnis dapat bekerja dengan data yang lebih terpusat.
Menurut Gunawan, akses terhadap sistem yang terintegrasi dibutuhkan pelaku usaha, mulai dari bisnis yang sedang berkembang hingga jaringan multi-outlet, agar operasional lebih terukur dan mudah dikendalikan.
Ia juga merujuk data BPS DIY yang mencatat lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 10,56 persen. Angka tersebut dinilai mencerminkan kuatnya aktivitas yang terkait pariwisata, perhotelan, restoran, serta konsumsi makanan dan minuman di wilayah Yogyakarta.
Namun, Gunawan menilai pertumbuhan bisnis turut meningkatkan kompleksitas operasional. Pelaku usaha, kata dia, perlu mengelola transaksi dari berbagai kanal, menghadapi perubahan biaya operasional, menyusun strategi promosi, memastikan ketersediaan bahan baku, hingga mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat.
Ia menekankan pengusaha tidak cukup hanya mengejar penjualan, tetapi juga perlu memahami kondisi kesehatan tiap outlet, menu yang paling menguntungkan, situasi stok, serta efektivitas strategi promosi terhadap kinerja bisnis.
Salah satu perubahan yang semakin terlihat, menurutnya, adalah berkembangnya kanal pemesanan makanan secara online. Perkembangan ini menunjukkan pentingnya kemampuan bisnis kuliner untuk mengelola pesanan dari berbagai kanal secara lebih terintegrasi.
Dalam konteks itu, Gunawan menjelaskan ESB POS dapat digunakan untuk mengelola transaksi, menu, promosi, dan operasional kasir, sekaligus mengintegrasikan pesanan dari sejumlah kanal online. Sementara ESB Core sebagai sistem ERP untuk bisnis kuliner ditujukan untuk membantu pengelolaan pengadaan, stok dan inventory, produksi, HPP, hingga laporan keuangan secara terintegrasi.
Gunawan menegaskan tujuan digitalisasi tidak sebatas menyediakan aplikasi kasir atau perangkat lunak pencatatan transaksi. Ia menilai tantangan bisnis kuliner saat ini saling terhubung, sehingga sistem yang digunakan juga perlu terhubung. Menurutnya, ketika data penjualan, pesanan, stok, produksi, dan keuangan berjalan sendiri-sendiri, pemilik bisnis akan semakin sulit melihat kondisi operasional secara menyeluruh.