Menjelang waktu berbuka puasa, Jalan Garuda Mas di depan Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi salah satu titik keramaian warga yang mencari takjil. Pengunjung dari berbagai usia memadati area tersebut untuk berburu aneka jajanan, mulai dari makanan tradisional hingga street food yang sedang tren. Kepadatan pembeli dan arus kendaraan yang melintas kerap memicu kemacetan, namun suasana Ramadan tetap terasa kuat di tengah hiruk-pikuk jalan.
Sepanjang Jalan Garuda Mas, beragam pilihan takjil ditawarkan pedagang. Kolak, es buah, risol mayo, dimsum mentai, tahu dengan berbagai rasa, dan sejumlah jajanan lain menjadi menu yang banyak diminati. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, berkisar Rp1.000 hingga Rp20.000, sehingga menjadi pilihan bagi mahasiswa maupun warga sekitar yang ingin berbuka dengan makanan ringan.
Salah satu pengunjung, Syifa (19), mengaku sengaja datang untuk berburu jajanan di kawasan tersebut. Ia menilai banyaknya pilihan membuat pengunjung bisa membeli berbagai makanan dalam sekali berhenti. Syifa menyebut dirinya membeli sempol goreng dan es sari buah. Meski harus mengantre, ia menganggap hal itu bukan masalah. Bagi Syifa, pengalaman berburu takjil di sekitar UMS juga berkaitan dengan momen kebersamaan, karena ia datang bersama ibunya.
Namun, keramaian dan kemacetan membuat tidak semua orang memilih berhenti untuk membeli. Yusuf, seorang pengendara yang melintas, mengatakan ia sering melewati kawasan itu saat Ramadan dan melihat kondisi jalan yang “selalu macet banget” karena banyak penjual. Karena alasan tersebut, ia mengaku lebih memilih mencari tempat lain yang lebih sepi untuk membeli takjil.
Di sisi pedagang, keramaian justru menjadi alasan memilih berjualan di lokasi ini. Mutia (21), mahasiswa Soloraya sekaligus adik dari penjual jajanan dadakan, mengatakan ia dan kakaknya datang dari Sukoharjo untuk berjualan karena kawasan tersebut ramai dan masih terdapat tempat kosong untuk menjajakan makanan. Ia menyebut durasi berjualan sekitar dua jam, dan risol mayo yang dibawa habis terjual. Menurutnya, kendala utama adalah cuaca, terutama saat hujan. Mutia juga menyampaikan pembeli tidak hanya mahasiswa UMS, tetapi juga berasal dari kampus lain maupun warga.
Dengan variasi takjil dan suasana menjelang berbuka yang meriah, Jalan Garuda Mas tetap menjadi tujuan banyak warga untuk mencari menu berbuka puasa di Solo, meski harus berhadapan dengan kepadatan lalu lintas. Bagi sebagian orang, antrean dan macet menjadi bagian dari pengalaman, sementara yang lain memilih lokasi yang lebih lengang sesuai kenyamanan masing-masing.

