Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang berlangsung pada Februari 2026, antusiasme masyarakat Indonesia untuk menyambut momen ibadah tahunan ini tetap tinggi. Di sisi lain, fluktuasi harga bahan pokok di pasar kerap menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi keluarga yang harus menyusun menu harian dengan anggaran terbatas.
Meski begitu, menu berbuka puasa yang nikmat dan mengenyangkan tidak selalu harus mahal. Dengan perencanaan dan kreativitas, keluarga tetap bisa menyajikan hidangan sederhana yang membantu menjaga keseimbangan gizi sekaligus menekan pengeluaran hingga menjelang Lebaran.
Tradisi berbuka umumnya diawali dengan sajian manis dan menyegarkan. Dibanding membeli minuman kemasan yang harganya cenderung meningkat, membuat minuman sendiri di rumah dinilai lebih ekonomis. Pilihan seperti es teh manis atau es sirup masih menjadi andalan karena bahan-bahannya mudah didapat dan biayanya relatif kecil.
Di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar, alternatif lain yang disebut dapat dibuat lebih hemat adalah Es Pisang Ijo versi ekonomis. Sajian ini cukup menggunakan pisang kepok, sirup merah, serta saus santan buatan sendiri untuk menghadirkan menu berbuka yang terasa “mewah” tanpa biaya besar.
Selain minuman, olahan tradisional seperti kolak pisang, kolak ubi, atau bubur kacang hijau juga kerap direkomendasikan. Bahan-bahannya mudah ditemukan di pasar tradisional dengan harga yang lebih terjangkau. Kacang hijau disebut sebagai sumber energi dan protein nabati yang dapat membantu memulihkan stamina setelah seharian beraktivitas.
Gorengan juga masih menjadi menu favorit saat berbuka. Pisang goreng, tempe goreng tepung, tahu isi, hingga bakwan sayur termasuk pilihan yang murah dan banyak dicari. Tempe, yang dikenal kaya protein nabati, disebut sebagai salah satu opsi paling bijak untuk menu hemat.
Untuk tahu isi atau bakwan, sayuran yang tersisa di kulkas seperti wortel, kol, dan daun bawang dapat dimanfaatkan sebagai isian sederhana. Cara ini dinilai membantu menekan belanja sekaligus mengurangi bahan makanan yang berpotensi terbuang.
Setelah salat Maghrib, menu makanan berat biasanya menjadi pelengkap. Telur disebut sebagai salah satu sumber protein hewani yang relatif paling murah. Olahan seperti telur dadar atau telur balado kerap menjadi pilihan praktis, terutama ketika anggaran menipis, namun tetap bisa terasa lezat dengan bumbu yang tepat.
Agar lebih seimbang, nasi dapat didampingi sayuran berkuah hangat. Sayur sop sederhana berisi kentang, wortel, dan buncis disebut cocok untuk menghangatkan perut. Alternatif lain yang lebih cepat dimasak adalah sayur bayam atau tumis kangkung yang kaya vitamin.
Bagi penyuka rasa pedas, sambal tempe atau sambal teri dapat menjadi pelengkap yang membantu meningkatkan selera makan. Rasa sambal yang kuat sering kali membuat lauk sederhana terasa lebih nikmat.
Penghematan selama Ramadan juga dapat dilakukan dengan meminimalkan makanan terbuang. Nasi sisa sahur yang masih layak, misalnya, bisa diolah kembali menjadi nasi goreng rumahan dengan tambahan telur dan kecap untuk menu berbuka yang praktis dan mengenyangkan.
Selain nasi goreng, mi goreng atau mi kuah dengan tambahan sayuran hijau juga dapat menjadi alternatif menu cepat saji yang terjangkau. Perkedel kentang bisa ditambahkan sebagai pendamping untuk memberi variasi tekstur dan rasa kenyang yang lebih lama.
Sejumlah langkah sederhana turut disarankan agar strategi menu hemat berjalan efektif. Di antaranya menyusun menu mingguan agar belanja lebih terencana, memilih bahan lokal dan musiman yang umumnya lebih murah dan segar, serta memasak sendiri di rumah karena lebih hemat dibanding membeli makanan jadi. Pengeluaran juga dapat ditekan dengan mengurangi minuman kemasan dan menggantinya dengan air putih atau olahan buah segar.
Pada akhirnya, Ramadan menjadi pengingat bahwa kebahagiaan berbuka tidak semata ditentukan oleh kemewahan hidangan, melainkan rasa syukur dan kebersamaan. Menu sederhana yang disiapkan dengan perhatian dan perencanaan dapat tetap menghadirkan momen berbuka yang hangat dan bermakna.

