Industri kelapa sawit nasional terus menunjukkan peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Selain menjadi penyumbang devisa dari ekspor minyak sawit dan turunannya, sektor ini juga menghasilkan devisa substitusi impor melalui pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel yang menggantikan solar fosil impor.
Berbagai studi yang dikutip dalam laporan PASPI Monitor menempatkan ekspor minyak sawit sebagai salah satu penggerak penting neraca perdagangan nasional. Indonesia, sebagai produsen sekaligus eksportir minyak sawit terbesar di dunia, mencatat peningkatan nilai ekspor yang signifikan dalam dua dekade terakhir.
Menurut PASPI Monitor (2025) dalam laporan berjudul Devisa Sawit dalam Neraca Perdagangan Indonesia, sejak 2000 kebijakan perdagangan sawit Indonesia berorientasi ekspor. Dampaknya, nilai ekspor minyak sawit dan produk turunannya meningkat dari US$1,1 miliar pada 2000 menjadi US$21,6 miliar pada 2010.
Puncak devisa ekspor sawit terjadi pada masa pandemi Covid-19. PASPI Monitor (2023a) mencatat nilai ekspor sawit menembus US$39 miliar pada 2022, tertinggi sepanjang sejarah. Meski sempat berfluktuasi, pada 2024 nilainya disebut tetap tinggi, berada di kisaran US$28,3 miliar.
Kinerja ekspor tersebut juga dikaitkan dengan program hilirisasi. Jika pada 2011 ekspor masih didominasi produk mentah berupa CPO dan CPKO sebesar 52%, maka pada 2024 komposisinya berubah. Produk olahan mencapai 74%, produk akhir 16%, sedangkan produk mentah tinggal 10%. Perubahan ini mencerminkan peningkatan nilai tambah sekaligus kualitas devisa ekspor dari sektor sawit.
Di luar ekspor, kontribusi industri sawit juga tercermin pada penghematan devisa impor melalui program mandatori biodiesel yang mulai diluncurkan pada 2006 dan terus ditingkatkan. Dalam satu dekade terakhir, kadar campuran biodiesel naik dari B15 pada 2015 menjadi B20 pada 2018, B30 pada 2020, B35 pada 2023, hingga B40 pada 2024. Pemerintah menargetkan penerapan B50 pada 2026.
PASPI Monitor (2025b) mencatat penghematan devisa impor solar fosil dari program biodiesel meningkat dari US$0,3 miliar pada 2015 menjadi US$8,3 miliar pada 2022, lalu kembali mencapai US$8,1 miliar pada 2024. Besaran penghematan ini dipengaruhi tingkat implementasi program biodiesel dan harga solar di pasar dunia.
Jika digabungkan, total devisa sawit—yakni devisa ekspor dan devisa substitusi impor—meningkat dari US$18,9 miliar pada 2015 menjadi US$36,4 miliar pada 2024. Rekor tertinggi terjadi pada 2022 dengan total devisa mencapai US$47,3 miliar.
Rangkaian angka tersebut menegaskan posisi industri kelapa sawit sebagai salah satu penopang utama perekonomian Indonesia, sekaligus berperan dalam transisi energi melalui pemanfaatan biodiesel berbasis minyak sawit.

