Industri farmasi nasional masih menghadapi tantangan besar berupa tingginya ketergantungan pada bahan baku impor. Kondisi ini membuat pelaku industri, termasuk PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan dinamika global.
Head of Corporate Communication KLBF Hari Nugroho mengatakan volatilitas mata uang menjadi tantangan nyata yang terus dihadapi perusahaan. Menurut dia, mayoritas Bahan Baku Obat (BBO) masih perlu diimpor karena ketersediaan dalam negeri terbatas, sehingga fluktuasi rupiah terhadap dolar AS menjadi tekanan utama.
Untuk meredam risiko nilai tukar, Kalbe mulai menerapkan skema pembayaran impor menggunakan mata uang lokal negara asal, salah satunya yuan untuk pembelian bahan baku dari China. Selain itu, perusahaan juga mencadangkan kas dalam dolar AS sebagai langkah mitigasi.
Di sisi lain, Kalbe menyatakan terus mempercepat pengembangan substitusi bahan baku impor melalui produksi lokal sebagai strategi jangka panjang. Perusahaan memperluas riset bahan baku berbasis bioteknologi yang dinilai lebih memungkinkan diproduksi di dalam negeri karena prosesnya dapat berlangsung lebih cepat dan efisien dibanding bahan berbasis kimia.
Terkait situasi geopolitik global, termasuk ketegangan perdagangan Amerika Serikat dan China, Hari menyebut dampaknya tidak signifikan terhadap industri farmasi dari sisi tarif. Namun, ia menilai pengaruhnya lebih terasa pada pergerakan mata uang. Dalam konteks tersebut, Kalbe juga melihat peluang kolaborasi internasional semakin terbuka, termasuk kerja sama yang dijalin tahun ini dengan Alian Pharma Thailand dan Linkzone China.
Selain substitusi bahan baku, Kalbe juga memperkuat kapasitas produksi lokal untuk mendukung ketahanan kesehatan nasional. Upaya ini mencakup pembangunan fasilitas radiofarmaka, pengembangan alat kesehatan dalam negeri, serta peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada sejumlah produk. Kalbe menyebut saat ini telah memproduksi benang bedah, mobil X-ray, dan dialyzer secara lokal, serta tengah membangun fasilitas untuk perakitan CT scan.
Memasuki 2026, Kalbe menyiapkan strategi pada empat segmen bisnis. Pada segmen obat resep, perusahaan melanjutkan pengembangan terapi sel, obat biologis, ekosistem onkologi, dan vaksin, sekaligus memperkuat dukungan terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Untuk produk kesehatan dan nutrisi, fokus diarahkan pada rejuvenasi merek serta pengembangan produk preventif dan lifestyle dengan harga terjangkau.
Di segmen distribusi dan logistik, Kalbe berencana meningkatkan kapabilitas produksi alat kesehatan lokal untuk menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang. Secara historis, belanja modal perusahaan berada di kisaran Rp 1 triliun per tahun, yang dialokasikan untuk peningkatan kapasitas produksi dan investasi strategis lainnya.
Hari menegaskan inovasi dan kolaborasi tetap menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan. Kalbe juga menyebut telah meluncurkan sejumlah produk baru seperti EPSA (Long Lasting Erythropoietin) dan Certifio, serta memperluas portofolio bioteknologi di dalam negeri. Ke depan, perusahaan menilai pekerjaan rumah masih besar, terutama dalam memperkuat bioteknologi dan menambah portofolio vaksin, namun tetap optimistis industri farmasi akan bertumbuh seiring meningkatnya kebutuhan kesehatan masyarakat.
Sebelumnya, Kalbe Farma mencatat pertumbuhan kinerja hingga kuartal III-2025 dengan laba bersih Rp 2,63 triliun, naik 10,63 persen secara tahunan. Dengan momentum tersebut dan agenda substitusi bahan baku lokal, perusahaan menyatakan keyakinannya untuk terus memperkuat kemandirian kesehatan Indonesia.

