BERITA TERKINI
Halim Kembangkan Kapurung Al Fazza di Sidrap, Buka Lapangan Kerja Meski Tanpa Pengalaman Kuliner

Halim Kembangkan Kapurung Al Fazza di Sidrap, Buka Lapangan Kerja Meski Tanpa Pengalaman Kuliner

SIDRAP — Halim membuktikan bahwa keterbatasan pengalaman tidak selalu menjadi penghalang untuk memulai usaha. Meski tanpa latar belakang kuliner, ia berhasil mengembangkan Kapurung Al Fazza di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Sebelum menekuni usaha, Halim bekerja sebagai karyawan ekspedisi lintas negara. Pekerjaan itu membuatnya harus jauh dari keluarga dan hanya bisa pulang sekali dalam setahun. Kondisi tersebut mendorongnya mengambil keputusan untuk membangun usaha sendiri agar dapat lebih dekat dengan keluarga.

Pada akhir 2019, dengan modal terbatas serta tanpa bekal memasak maupun pengetahuan bisnis, Halim memulai usaha kuliner dengan memilih kapurung—makanan khas Palopo—karena dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan di Sidrap. “Saya memulai usaha ini karena ingin lebih dekat dengan keluarga. Saat itu saya belum punya dasar memasak dan belum memahami bisnis, sehingga banyak belajar dari proses perjalanan usaha ini,” ujar Halim, Jumat (28/8/2026).

Selain mempertimbangkan peluang pasar, Halim juga menyebut kepeduliannya terhadap pola hidup sehat masyarakat sebagai alasan memilih kapurung. Ia menyoroti tingginya kasus diabetes melitus di Sidrap dan menilai kapurung dapat menjadi alternatif makanan sehat karena berbahan dasar sagu serta kaya vitamin dan mineral. Ia juga ingin menghadirkan pilihan pengganti nasi bagi masyarakat yang ingin mengatur pola makan.

Namun, memperkenalkan kapurung kepada masyarakat Sidrap bukan tanpa tantangan. Kapurung bukan makanan utama di daerah tersebut, sehingga Halim perlu memahami selera konsumen agar produknya diterima. Melalui riset dan penyesuaian rasa, ia menghadirkan inovasi Kapurung Al Fazza, termasuk menu kapurung kuah kuning yang menjadi pembeda.

“Kami mempelajari selera masyarakat Sidrap hingga akhirnya menghadirkan kapurung kuah kuning pertama di Sidrap dengan rasa yang tetap autentik,” katanya.

Di sisi pengelolaan usaha, Halim juga terus mengasah kemampuan bisnis dengan memperluas jaringan. Ia bergabung dalam komunitas pengusaha, salah satunya Tangan Di Atas (TDA) Sidrap, sebagai ruang belajar dan berbagi pengalaman dengan pelaku usaha lain.

Kini, Kapurung Al Fazza beralamat di Jalan Wolter Monginsidi, depan RSUD Nene Mallomo Pangkajene Sidrap. Usaha tersebut mempekerjakan 10 tenaga kerja, terdiri atas delapan warga Sidrap, satu orang dari Pinrang, dan satu orang dari Pangkep. Halim menyebut sebagian besar pekerjanya merupakan ibu-ibu dan perempuan dengan latar belakang berbeda.

“Alhamdulillah, usaha ini bisa membantu perekonomian keluarga sekaligus membuka kesempatan bagi orang-orang yang membersamai Kapurung Al Fazza,” tuturnya.

Dalam proses produksi, Halim berupaya melibatkan pelaku ekonomi lokal. Bahan baku sebagian besar diperoleh dari petani dan peternak lokal Sidrap yang telah memiliki sertifikat halal. Sementara itu, bahan utama kapurung berupa sagu masih didatangkan dari Palopo karena belum tersedia di Sidrap.

Ke depan, Halim menargetkan Kapurung Al Fazza berkembang lebih besar dengan sistem usaha yang semakin tertata, sehingga mampu membuka peluang kerja yang lebih luas. Ia juga berharap perkembangan UMKM di Sidrap mendapat dukungan melalui kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah daerah.

“Kepada anak muda Sidrap, jangan takut bermimpi dan punya cita-cita besar. Yang penting jangan berhenti belajar, karena apa yang kita pelajari hari ini adalah wujud masa depan,” pesannya.