Pembangunan gizi anak kian dipandang sebagai fondasi strategis bagi masa depan Indonesia. Kualitas asupan makanan sejak dini dinilai berpengaruh langsung terhadap kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi yang kelak menjadi tenaga kerja, inovator, serta pemimpin. Dalam kerangka pembangunan nasional, isu gizi tidak hanya ditempatkan sebagai urusan kesehatan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat daya saing bangsa.
Dalam konteks visi Indonesia Emas 2045, kualitas sumber daya manusia menjadi pilar utama. Pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto melalui agenda Astacita menegaskan prioritas pembangunan manusia unggul, termasuk penguatan kualitas gizi anak melalui intervensi yang lebih sistematis. Penekanan tersebut mencakup program makan bergizi serta upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Keterkaitan antara peningkatan gizi dan target Indonesia Emas 2045 juga dikaitkan dengan proyeksi bonus demografi, yakni periode ketika proporsi penduduk usia produktif berada pada titik tertinggi. Namun, bonus demografi dinilai hanya akan menjadi keuntungan apabila generasi produktif memiliki kualitas fisik dan kognitif yang optimal. Tanpa fondasi gizi yang kuat sejak usia dini, produktivitas dapat menurun dan beban kesehatan berisiko meningkat, sehingga menghambat ambisi menjadi negara maju.
Sejumlah indikator menunjukkan perbaikan, tetapi tantangan masih besar. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen, dari 21,5 persen pada 2023 dan sekitar 30,8 persen pada 2018. Penurunan hampir 11 poin persentase dalam enam tahun ini menandakan intervensi mulai membuahkan hasil. Meski demikian, angka tersebut masih berarti lebih dari 4 juta balita mengalami stunting.
Ketimpangan antarwilayah juga masih terlihat. Beberapa provinsi di wilayah timur mencatat prevalensi stunting di atas 30 persen, sementara Bali sudah berada di bawah 10 persen. Selain stunting, Indonesia juga menghadapi beban ganda malnutrisi. Data dari UNICEF menunjukkan masih adanya wasting, bersamaan dengan peningkatan obesitas anak—terutama di wilayah perkotaan—yang dikaitkan dengan pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak.
Dalam gambaran global, Joint Child Malnutrition Estimates 2024 dari World Health Organization mencatat sekitar 22 persen balita dunia mengalami stunting, setara lebih dari 148 juta anak. Dengan prevalensi 19,8 persen, Indonesia dinilai sedikit lebih baik dari rata-rata global, namun masih tertinggal dibanding negara maju. Jepang, misalnya, memiliki prevalensi stunting sekitar 7 persen yang didukung layanan kesehatan primer kuat serta program makan sekolah terintegrasi dengan pendidikan gizi. Vietnam disebut mampu menurunkan stunting secara konsisten selama dua dekade melalui kombinasi pertumbuhan ekonomi dan intervensi kesehatan ibu-anak, sementara India masih menghadapi tantangan besar dengan prevalensi stunting dalam berbagai laporan berada di atas 30 persen.
Perbandingan tersebut menunjukkan Indonesia berada pada jalur perbaikan, namun membutuhkan konsistensi kebijakan jangka panjang agar mampu mendekati capaian negara dengan sistem gizi yang lebih mapan. Dalam menjawab tantangan, pemerintah menggabungkan pendekatan langsung dan struktural. Program Makan Bergizi Gratis diposisikan sebagai intervensi hilir untuk memastikan anak sekolah memperoleh asupan gizi seimbang setiap hari.
Studi yang dirujuk oleh World Bank menyebut program makan sekolah dapat meningkatkan partisipasi belajar sekaligus memperbaiki status gizi anak untuk menghindari malnutrisi. World Bank juga menyatakan malnutrisi dapat menurunkan potensi produktivitas dan pendapatan individu hingga 10 persen sepanjang hidupnya. Jika dampak tersebut terjadi pada jutaan anak, konsekuensinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dinilai akan signifikan.
Dari sisi hulu, pembangunan kawasan food estate diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan. Dengan produksi domestik yang stabil dan modernisasi pertanian, ketersediaan bahan pangan bergizi diharapkan lebih terjamin dan harga dapat lebih terkendali. Sinergi antara produksi pangan dan distribusi gizi dipandang penting untuk menjaga keberlanjutan program.
Sejumlah pihak menilai Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya melalui pembangunan infrastruktur dan industrialisasi. Capaian tersebut juga sangat dipengaruhi kualitas biologis dan kognitif generasi yang tumbuh saat ini. Karena itu, investasi pada gizi anak dipandang sebagai investasi langsung bagi daya saing Indonesia dalam dua dekade mendatang.
Ke depan, kebijakan perbaikan gizi didorong agar diposisikan sebagai strategi pembangunan jangka panjang, bukan sekadar program sosial tahunan. Penguatan intervensi sejak 1.000 hari pertama kehidupan, keberlanjutan program makan bergizi, perbaikan sanitasi, edukasi pola konsumsi sehat, hingga penguatan ketahanan pangan nasional disebut perlu berjalan terintegrasi. Sinergi lintas sektor—mulai dari kesehatan, pendidikan, pertanian, hingga perlindungan sosial—dinilai menjadi prasyarat agar dampaknya lebih sistemik dan berkelanjutan.
Apabila fondasi gizi anak berhasil diperkuat, Indonesia diproyeksikan tidak hanya memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar pada 2045, tetapi juga generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global. Dalam kerangka itu, gizi ditempatkan sebagai salah satu penentu kualitas sumber daya manusia yang akan menopang produktivitas ekonomi dan stabilitas sosial di masa depan.

