BERITA TERKINI
Foto Makanan Buatan AI Ramai Dipakai Pengusaha Kuliner, Berisiko Picu Kekecewaan Pembeli

Foto Makanan Buatan AI Ramai Dipakai Pengusaha Kuliner, Berisiko Picu Kekecewaan Pembeli

Perkembangan teknologi turut memengaruhi cara pelaku usaha memasarkan produk, termasuk di sektor kuliner. Belakangan, penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membuat foto makanan kian marak. Bagi sebagian pengusaha, cara ini dinilai sebagai langkah efisien untuk menekan biaya produksi materi promosi, terutama karena jasa fotografi makanan profesional tidak murah.

Namun, penggunaan gambar makanan hasil AI juga memunculkan persoalan baru. Jika visual yang ditampilkan terlalu jauh dari wujud menu sebenarnya, pembeli berpotensi merasa tertipu. Kesenjangan antara foto promosi dan makanan yang diterima dapat memicu kekecewaan dan membuat pelanggan beralih ke pilihan lain.

Dalam praktiknya, gambar buatan AI kerap terlihat terlalu mulus dan “sempurna”. Alih-alih menggugah selera, makanan bisa tampak seperti pajangan. Detail yang seharusnya menunjukkan tekstur—misalnya kulit ayam yang renyah—dapat terlihat kaku, sementara efek seperti uap panas sering tampak tidak natural.

Perbedaan ini menonjol jika dibandingkan dengan hasil kerja fotografer kuliner. Fotografer dan food stylist biasanya mengandalkan kepekaan terhadap cahaya, pantulan, dan penonjolan tekstur untuk membuat makanan tampak hidup dan menggambarkan sensasi rasa. Sementara itu, AI bekerja berdasarkan perintah (prompt). Ketika perintahnya kurang tepat atau minim pemahaman tentang karakter makanan, hasil visualnya berisiko tidak sesuai dengan realitas produk.

Selain soal akurasi, penggunaan AI juga dinilai dapat mengikis “jiwa” dan cerita di balik makanan. Makanan tidak hanya dipahami sebagai pengganjal lapar, melainkan juga produk budaya yang terkait emosi dan memori. Karena itu, visual makanan bukan semata urusan estetika, tetapi juga sarana komunikasi pengalaman yang ingin ditawarkan sebuah usaha kepada calon pelanggan.

Foto rekaan AI kerap terasa bersih dan generik. Karena dilatih dari banyak gambar yang sudah ada, hasilnya cenderung seragam dan kurang menangkap nuansa unik yang seharusnya menjadi pembeda. Padahal, konsistensi bahasa visual penting dalam bisnis kuliner—pelanggan idealnya dapat mengenali menu dari sebuah tempat hanya dari sekali melihat tampilannya.

Dalam membangun identitas visual, proses kolaborasi biasanya menjadi kunci. Pemilik usaha, tim pemasaran, fotografer profesional, dan food stylist umumnya berdiskusi untuk menerjemahkan visi merek ke dalam konsep yang sesuai dengan target konsumen. Proses ini mencakup dialog, riset, hingga eksekusi, sehingga hasil akhirnya tidak hanya menarik, tetapi juga merepresentasikan karakter usaha.

Ketika pelaku usaha sepenuhnya mengandalkan AI, ada risiko identitas tersebut justru terhapus. Makanan yang dibuat dengan dedikasi dapat terlihat “mati” di mata pelanggan jika cara bercerita melalui visual tidak tepat. Pada akhirnya, penggunaan foto AI untuk promosi memerlukan kehati-hatian agar efisiensi tidak berujung pada hilangnya kepercayaan pelanggan dalam jangka panjang.