BERITA TERKINI
FOMO di Kalangan Pelajar: Tren Viral Dinilai Mengikis Budaya Literasi

FOMO di Kalangan Pelajar: Tren Viral Dinilai Mengikis Budaya Literasi

Fenomena FOMO (fear of missing out) atau rasa takut ketinggalan tren kian menonjol di kalangan pelajar dan generasi muda. Istilah ini banyak dibahas dalam berbagai penelitian sebagai salah satu dampak psikologis dari penggunaan media sosial yang intens. Dampaknya tidak hanya dikaitkan dengan kesehatan mental, tetapi juga dinilai berpotensi menggerus budaya literasi di lingkungan pendidikan.

Secara umum, FOMO dipahami sebagai kecemasan sosial yang mendorong seseorang merasa perlu ikut dalam hal-hal yang sedang tren atau viral agar tidak tertinggal. Dorongan untuk selalu terlihat mengikuti perkembangan terbaru—baik dalam komunikasi daring maupun kehidupan sehari-hari—membuat pelajar menghadapi tantangan dalam mengatur waktu, menjaga fokus belajar, serta mempertahankan minat membaca atau melakukan kegiatan bermakna di luar penggunaan gawai.

Sejumlah studi menyebut adanya kaitan antara FOMO dan tingginya keterlibatan di media sosial. Salah satunya ditunjukkan dalam Jurnal Audiens bertajuk “Fenomena Budaya FoMO (Fear of Missing Out) di Media Sosial Tiktok pada Kalangan Gen Z”, yang menggambarkan kebiasaan sering terlibat aktivitas online, kecenderungan terus memeriksa media sosial, serta kekhawatiran “melewatkan sesuatu” sebagai hal yang kerap muncul di lingkungan pendidikan. Kajian itu juga menyoroti kuatnya keinginan generasi Z mengikuti tren viral, terutama di platform seperti TikTok (Sabila, K., 2025).

Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap budaya literasi, yang pada dasarnya mencakup kebiasaan membaca, menulis, dan berpikir kritis. Kebiasaan ini idealnya ditanamkan sejak dini dan terus dilatih selama masa pendidikan. Namun, ketika perhatian pelajar lebih banyak tersedot untuk mengikuti tren di media sosial, waktu yang semestinya digunakan untuk membaca buku, menelaah artikel panjang, atau berdiskusi secara serius dapat berkurang. Semakin banyak waktu dihabiskan untuk menggulir konten cepat di layar, semakin sempit ruang untuk membaca secara efektif dan reflektif.

Isu literasi sendiri bukan persoalan baru. Mengacu pada pemaparan Pusmendik dalam Webinar Sharing Session GTK Kemendikbud, hasil survei internasional Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan kemampuan membaca di Indonesia masih belum memuaskan dibandingkan banyak negara lain. Penurunan capaian membaca tidak hanya mencerminkan keterampilan yang belum kuat, tetapi juga rendahnya minat baca sebagai kebiasaan. Dalam konteks ini, fenomena digital yang dipicu rasa takut ketinggalan dinilai dapat membuat tantangan literasi semakin sulit diatasi.

Media sosial dengan sistem yang terus menyajikan konten baru dan populer menciptakan dorongan untuk selalu mengikuti informasi terkini. Akibatnya, pelajar kerap memilih konten ringan dan cepat dikonsumsi—seperti video singkat, meme, atau tantangan viral—dibanding membaca buku atau artikel panjang yang membutuhkan konsentrasi lebih lama. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dikhawatirkan memengaruhi kemampuan membaca dan memahami teks secara mendalam.

Dampak lain yang disorot adalah perubahan cara pelajar memahami realitas. Buku dan teks panjang memberi ruang untuk memahami konteks, melatih berpikir kritis, serta mengolah gagasan kompleks. Sementara itu, sebagian konten media sosial cenderung instan dan terfragmentasi. Ketika FOMO mendorong pelajar terus mengejar konten viral, waktu dan ruang untuk membaca secara serius berpotensi semakin menyempit.

Meski demikian, tren viral dan media sosial tidak sepenuhnya dipandang negatif. Platform digital juga bisa menjadi sarana literasi jika digunakan secara cerdas. Media sosial dapat membantu pelajar menemukan rekomendasi buku, mengakses artikel berkualitas, atau terlibat dalam diskusi bermakna. Agar potensi ini terwujud, diperlukan kesadaran kritis dari pelajar serta dukungan dari lingkungan pendidikan untuk membangun literasi digital yang sehat.

Peran sekolah, orang tua, dan pemerintah disebut penting karena dampak FOMO terhadap literasi tidak dapat ditangani secara parsial. Pendidikan literasi digital dinilai perlu mengajarkan cara mengelola waktu bermedia sosial serta memilih konten yang bermutu. Di saat yang sama, sekolah didorong mengintegrasikan budaya literasi ke dalam kurikulum, tidak hanya sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi sebagai praktik yang hadir dalam setiap proses pembelajaran.

Fenomena FOMO telah menjadi bagian dari kehidupan digital pelajar masa kini. Tantangannya adalah memastikan dorongan mengikuti tren tidak mengikis kebiasaan membaca dan berpikir mendalam. Upaya membangun generasi yang tidak hanya cepat mengikuti arus, tetapi juga kuat dalam membaca dan bernalar, dipandang sebagai tanggung jawab bersama sekolah, keluarga, dan masyarakat.