Jakarta — Suasana pusat perbelanjaan pada 10 hari pertama puasa Ramadan kerap berubah drastis. Troli belanja yang biasanya terisi seperlunya mendadak penuh, rak bahan pokok cepat kosong, antrean kasir mengular, dan keranjang belanja dipenuhi beragam produk makanan dalam jumlah besar. Fenomena ini seolah menjadi ritual tahunan.
Di tengah lonjakan belanja tersebut, muncul kekhawatiran bahwa fokus pada menimbun stok dapat menggeser perhatian dari kualitas makanan yang dikonsumsi selama Ramadan. Quality Assurance Specialist perusahaan food and beverage, Erwin Setiawan, menyoroti perubahan perilaku belanja yang ia amati menjelang Ramadan.
“Sehari sebelum Ramadan datang, saya cek kebiasaan masyarakat di supermarket, minimarket, dan pasar tradisional. Ternyata, masyarakat banyak yang memborong makanan apa saja, semua di rak diambil sampai trolinya banyak. Padahal di hari-hari biasa, enggak segitunya,” ujar Erwin di sela Group Media Interview TikTok bertajuk #SerunyadiTikTok di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.
Menurut Erwin, kebiasaan memborong makanan sering membuat konsumen kehilangan sikap selektif. Dalam situasi terburu-buru, perhatian lebih banyak tertuju pada kuantitas agar stok terasa aman, sementara komposisi dan kandungan nutrisi produk kerap luput diperhatikan.
Ia menilai rendahnya kebiasaan membaca label komposisi menjadi salah satu persoalan mendasar. “Kebiasaan masyarakat itu beli banyak banget makanan tanpa melihat apa yang dia beli, salah satunya adalah komposisinya,” kata dia.
Padahal, selama Ramadan tubuh tetap membutuhkan asupan gizi seimbang. Kebutuhan makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak tetap perlu dipenuhi, begitu pula mikronutrien berupa vitamin dan mineral untuk menjaga fungsi organ tetap optimal, meski waktu makan terbatas pada sahur dan berbuka.
Erwin mengingatkan, persiapan stok yang berlebihan berpotensi memicu pola makan kurang sehat jika pilihan produk didominasi makanan tinggi gula, garam, atau lemak jenuh. Dampaknya dapat terasa pada pertengahan hingga akhir Ramadan, mulai dari mudah lemas hingga gangguan metabolisme.
Di sisi lain, tuntutan kepraktisan selama Ramadan juga dinilai mendorong konsumsi makanan instan. Waktu sahur yang singkat dan kebutuhan berbuka yang cepat membuat produk siap saji menjadi pilihan banyak orang. Namun, ia menekankan bahwa makanan instan tetap perlu dipilih dengan cermat, terutama terkait proses produksi dan teknologi pengemasan.
Ia mencontohkan produk instan berbasis homemade seperti rendang siap saji yang dikemas menggunakan teknologi vakum. “Misalnya makanan instan daging homemade, rendang yang hanya di-microwave saja, itu bagus karena memang tidak ada pengawet yang lain. Hanya menggunakan teknologi pengemasan seperti vacuum sealer,” ujarnya.
Menurut Erwin, teknologi pengemasan modern dapat membantu menjaga kualitas makanan tanpa tambahan bahan pengawet kimia berlebihan. Meski demikian, ia menekankan konsumen tetap perlu membaca label dan memahami kandungan produk yang dibeli.
Produk kalengan seperti sarden juga kerap menjadi stok andalan untuk sahur karena harganya terjangkau dan mudah diolah. Namun, Erwin mengingatkan makanan jenis ini umumnya mengandung natrium tinggi sebagai bagian dari proses pengawetan.
“Boleh enggak sih makan sarden setiap hari untuk sahur? Ya boleh-boleh saja makan, tapi seminggu tiga kali aja karena kandungan natriumnya tinggi. Kenapa tinggi? Karena proses pengawetan paling sederhana ya menggunakan natrium atau gula,” kata Erwin.
Ia menambahkan, konsumsi natrium berlebih dapat memicu berbagai risiko kesehatan, terutama jika terjadi terus-menerus selama sebulan penuh. Karena itu, euforia menyambut Ramadan dinilai tidak semestinya membuat masyarakat abai pada kualitas pangan.
Erwin menegaskan memborong makanan bukan hal keliru selama dilakukan dengan perencanaan dan pertimbangan gizi yang matang. “Ramadan adalah momentum memperbaiki pola hidup, termasuk pola makan. Troli boleh penuh, tetapi kesadaran akan gizi seimbang tetap harus menjadi prioritas agar ibadah berjalan optimal,” ujarnya.

