Sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan pertumbuhan yang menonjol seiring pemulihan ekonomi daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan II-2026 sebesar 5,75 persen secara tahunan, dengan lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan-minum melesat 10,56 persen.
Di tengah peluang tersebut, PT Esensi Solusi Buana (ESB) berpartisipasi dalam Jogja International Food & Horeca Expo (JIFHEX) 2026 yang digelar di Jogja Expo Center (JEC) pada 28–30 Agustus 2026. Perusahaan penyedia teknologi operasional bisnis kuliner ini membawa ekosistem perangkat lunak terintegrasi yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha menghadapi tantangan operasional yang kian kompleks.
CEO & Co-Founder ESB, Gunawan Woen, menyatakan pertumbuhan industri kuliner di Yogyakarta turut meningkatkan kompleksitas pengelolaan bisnis. Menurutnya, percepatan bisnis tidak cukup hanya mengandalkan kenaikan volume penjualan, tetapi juga memerlukan efisiensi pengelolaan dari hulu ke hilir.
“Yogyakarta adalah contoh menarik. Aktivitas bisnis kuliner dan hospitality terus bergerak, tetapi pertumbuhan juga membuat kompleksitas operasional semakin besar. Pengusaha tidak cukup hanya mengejar penjualan. Mereka perlu mengetahui outlet mana yang sehat, menu mana yang menguntungkan, bagaimana kondisi stok, dan apakah strategi promosi benar-benar memberikan dampak terhadap bisnis,” ujar Gunawan dalam keterangan resminya.
Tantangan operasional dinilai sejalan dengan meningkatnya tren pemesanan makanan daring. Lembaga riset Momentum Works mengestimasi nilai transaksi (gross merchandise value/GMV) makanan daring melalui GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood mencapai US$6,4 miliar pada 2025, tumbuh 18 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, survei Populix terhadap 3.138 responden Gen Z dan milenial menunjukkan harga serta promo diskon masih menjadi pertimbangan utama konsumen memilih tempat makan, sehingga strategi promosi perlu diperhitungkan agar tidak menekan margin usaha.
Selain aspek transaksi dan pemasaran, efisiensi bahan baku juga menjadi perhatian. Bappenas mencatat potensi kerugian ekonomi akibat food loss and waste di Indonesia berada pada kisaran Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun. Dalam konteks ini, pengendalian stok bahan baku dan perhitungan harga pokok penjualan (HPP) yang presisi dipandang penting untuk menekan pemborosan sekaligus menjaga profitabilitas.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ESB menampilkan sejumlah solusi di JIFHEX 2026, antara lain ESB POS untuk kasir dan integrasi pesanan online, ESB Order untuk pemesanan digital, serta ESB Core sebagai sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang mengintegrasikan pengadaan, persediaan stok, produksi, hingga laporan keuangan.
Gunawan menekankan pentingnya sistem yang saling terhubung agar pemilik usaha dapat mengambil keputusan berbasis data secara lebih akurat. “Tujuan kami bukan sekadar menyediakan aplikasi kasir restoran atau software untuk mencatat transaksi. Tantangan bisnis kuliner hari ini saling terhubung, sehingga sistemnya juga perlu saling terhubung. Ketika data penjualan, pesanan, stok, produksi, dan keuangan masih berjalan sendiri-sendiri, pemilik bisnis akan semakin sulit melihat kondisi operasional secara menyeluruh,” katanya.
Selama tiga hari penyelenggaraan pameran, booth ESB menyediakan ruang konsultasi langsung dan demonstrasi sistem operasional terpadu bagi pelaku usaha, mulai dari skala UMKM yang berkembang hingga jaringan multi-outlet. ESB menyebut partisipasinya sebagai bagian dari komitmen mendorong digitalisasi sektor horeka di berbagai daerah.
“Partisipasi kami di JIFHEX merupakan bagian dari komitmen ESB untuk mendukung digitalisasi bisnis kuliner di berbagai daerah. Kami ingin pelaku usaha, mulai dari bisnis yang sedang berkembang hingga jaringan multi-outlet, dapat memiliki akses terhadap sistem yang membantu operasional mereka menjadi lebih terintegrasi, terukur, dan mudah dikendalikan,” tutup Gunawan.