Ancaman resistensi antibiotik dan penyebaran bakteri patogen seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus masih menjadi perhatian global. Tantangan pengendalian penyakit nosokomial di rumah sakit kian besar seiring cepatnya perkembangan resistensi patogen terhadap obat antimikroba, sehingga mendorong kebutuhan akan agen antimikroba baru yang efektif sekaligus ramah lingkungan.
Dalam konteks tersebut, nanopartikel perak (AgNP) dikenal memiliki sifat antibakteri yang kuat. Efektivitasnya dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain ukuran dan bentuk partikel, tingkat agregasi, fase pertumbuhan bakteri, serta paparan radiasi. Pada skala nano, AgNP dapat menembus membran sel bakteri, mengganggu aktivitas enzimatik, dan memicu stres oksidatif yang berujung pada kematian sel.
Sejumlah peneliti juga menyoroti metode sintesis hijau sebagai pendekatan yang lebih sederhana, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Metode ini memanfaatkan biomolekul dari tumbuhan yang berperan sebagai agen pereduksi sekaligus penstabil. Ekstrak teh hijau (Camellia sinensis) menjadi salah satu bahan yang digunakan karena mengandung flavonoid, polifenol, dan katekin yang dapat berfungsi sebagai bioreduktor sekaligus penstabil dalam sintesis nanopartikel perak.
Dalam riset yang dilaporkan, sintesis hijau berbantuan gelombang mikro digunakan untuk menghasilkan AgNP. Pembentukan nanopartikel dikonfirmasi melalui spektroskopi UV-Vis dan analisis distribusi ukuran partikel. Perubahan warna larutan menjadi kuning kecokelatan juga diamati sebagai indikator terbentuknya AgNP.
Selanjutnya, sifat antibakteri nanopartikel perak berbasis ekstrak teh hijau (CS-AgNP) diuji terhadap S. aureus dan E. coli dengan bantuan laser dioda biru (405 nm). Pada konsentrasi 2 mM dengan paparan laser selama 180 detik, tingkat inaktivasi tercatat mencapai 79,01% untuk E. coli dan 89,74% untuk S. aureus. Sebagai pembanding, perlakuan laser tanpa AgNP menghasilkan tingkat inaktivasi 70,15% untuk E. coli dan 76,07% untuk S. aureus.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa nanopartikel perak yang disintesis dari ekstrak teh hijau dapat berperan sebagai fotosensitizer yang efektif, sehingga meningkatkan efek fotoinaktivasi bakteri secara signifikan dibandingkan paparan laser saja.

