BERITA TERKINI
Ekspansi Ayam Gepuk Pak Gembus: Mengandalkan Sistem dan Standarisasi untuk Tumbuh Konsisten

Ekspansi Ayam Gepuk Pak Gembus: Mengandalkan Sistem dan Standarisasi untuk Tumbuh Konsisten

Tidak banyak merek kuliner lokal yang mampu berkembang dari gerai sederhana menjadi jaringan bisnis berskala internasional. Ayam Gepuk Pak Gembus menjadi salah satu contoh ketika produk yang dekat dengan keseharian masyarakat dapat tumbuh menjadi merek besar, bukan semata karena rasa, melainkan karena fondasi sistem bisnis yang dibangun sejak awal.

Saat ini, jaringan Ayam Gepuk Pak Gembus disebut telah mencapai sekitar 700 gerai, dengan sekitar 100 gerai di antaranya beroperasi di Malaysia. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penerimaan pasar terhadap produk, sekaligus sistem bisnis yang memungkinkan ekspansi berlangsung konsisten.

PT Gelora Muda Berjaya selaku pengelola Ayam Gepuk Pak Gembus menilai keberhasilan ini berangkat dari keyakinan pendirinya, Rido Nurul Adityawan, ketika merintis usaha pada 2013. Di tengah persaingan bisnis kuliner yang ketat, ia meyakini bahwa kekuatan merek tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal awal, melainkan oleh kualitas produk, konsistensi, serta keseriusan pengelolaan usaha.

“Sejak awal, Pak Rido meyakini bahwa makanan yang sederhana pun bisa menjadi brand besar jika memiliki cita rasa yang kuat, memiliki konsistensi kualitas, kemudian produknya diterima dengan mudah di segala kalangan masyarakat, dan dikelola dengan sungguh-sungguh,” ujar General Manager Operasional PT Gelora Muda Berjaya, Ashari Handayani, dalam podcast “Dari Redaksi SWA”.

Keyakinan tersebut kemudian berkembang menjadi filosofi perusahaan. Ayam Gepuk Pak Gembus tidak hanya berfokus menjual makanan, tetapi juga menciptakan peluang usaha dan membuka lapangan pekerjaan melalui model kemitraan. Dengan pendekatan itu, perusahaan menempatkan pertumbuhan bisnis sejalan dengan perkembangan para mitra di berbagai daerah.

Manajemen kemudian melihat bahwa kekuatan utama merek bukan semata pada menu, melainkan pada kemampuannya direplikasi melalui sistem kemitraan yang terstruktur. “Kekuatan Ayam Gepuk Pak Gembus ini bukan hanya dari sisi produknya, tetapi potensi dan kemampuannya untuk dikembangkan secara cukup agresif melalui sistem kemitraan,” kata Ashari.

Model tersebut membuat publik tidak hanya memandang Ayam Gepuk Pak Gembus sebagai tempat makan, tetapi juga sebagai peluang investasi dan usaha. Kepercayaan terhadap produk dan terhadap model bisnis menjadi modal penting yang mempercepat ekspansi ke berbagai wilayah.

Namun, bertambahnya jumlah gerai juga membawa tantangan yang lebih kompleks, terutama dalam menjaga kualitas. Menurut Ashari, bisnis kuliner multi-gerai tidak cukup mengandalkan resep yang enak. Kunci berikutnya adalah kemampuan membangun standardisasi di seluruh rantai operasional.

“Kalau kuliner artinya produk enak itu wajib. Tapi kalau sudah bicara multi-gerai, keywords keduanya adalah standarisasi,” tutur Ashari. “Kami membangun sistem yang terstruktur untuk memastikan standarisasi dari hulu ke hilir.”

Perusahaan membangun sistem yang mencakup proses pengadaan bahan baku melalui central kitchen, pengolahan, resep, penyajian, pelatihan sumber daya manusia, hingga mekanisme pelaporan dan evaluasi. Standardisasi juga diterapkan secara rinci, termasuk pada gramasi, peralatan yang digunakan, dan prosedur operasional, untuk meminimalkan perbedaan rasa antargerai.

Untuk menjaga pelaksanaan standar, perusahaan membentuk organisasi pendukung yang terdiri atas tim sales, pendamping operasional outlet, quality control, digital marketing, hingga customer service. Tujuannya agar seluruh gerai tetap berjalan sesuai ketentuan yang ditetapkan.

Di tengah tren kuliner yang berubah cepat, Ayam Gepuk Pak Gembus memilih tidak mengejar setiap tren yang muncul. Perusahaan lebih menekankan pemahaman atas perubahan kebutuhan pelanggan tanpa mengubah karakter utama merek. Identitas tersebut dipertahankan melalui sambal khas, harga yang kompetitif, serta kedekatan dengan masyarakat. Inovasi dilakukan secara selektif, misalnya melalui penambahan menu pendamping atau pengembangan konsep outlet seperti Signature Store dan desain gerai yang lebih modern, tanpa mengubah produk inti.

Strategi adaptasi juga diterapkan ketika perusahaan berekspansi ke Malaysia. Negara itu dipilih karena kedekatan budaya, selera yang relatif serupa, serta preferensi terhadap rasa pedas. Meski demikian, masuk ke pasar internasional tetap menuntut penyesuaian, mulai dari regulasi keamanan pangan, tata kelola operasional, budaya pelayanan, hingga pengelolaan rantai pasok. Adaptasi dilakukan tanpa menghilangkan identitas Ayam Gepuk Pak Gembus sebagai merek kuliner Indonesia.

Dalam operasional jaringan ratusan outlet, teknologi digital disebut berperan penting untuk memantau performa gerai, membaca tren penjualan, mendukung pemasaran, serta menyediakan data bagi pengambilan keputusan. Namun, Ashari menekankan teknologi hanya berfungsi sebagai penopang, sementara faktor manusia tetap menentukan keberhasilan operasional.

“Teknologi digital adalah supporting system replace human. Jadi tetap membangun kompetensi tim sehingga tim yang kompeten ini mampu meng-utilize teknologi digital untuk bisa membantu performance brand secara umum dan mitra secara khusus,” ujarnya.

Ke depan, perusahaan menyatakan tidak hanya mengejar penambahan jumlah gerai. Fokusnya adalah membangun organisasi yang semakin matang, tata kelola yang lebih kuat, serta sistem yang mampu menopang ekspansi jangka panjang di kawasan Asia. Dalam konteks yang lebih luas, perjalanan Ayam Gepuk Pak Gembus menggambarkan perubahan lanskap bisnis kuliner: skala tidak lagi semata ditentukan oleh resep dan lokasi, tetapi oleh kemampuan membangun sistem, standardisasi, dan tata kelola yang dapat direplikasi secara konsisten.