Anak usia 6–12 tahun dipandang sebagai aset masa depan bangsa karena berada pada fase pertumbuhan yang menentukan kualitas kesehatan dan produktivitas mereka di masa mendatang. Dalam konteks itu, pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memperluas akses makanan sehat dan bergizi seimbang bagi kelompok sasaran. Program ini disebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan makan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang bagi terbentuknya generasi yang lebih sehat.
Namun, keberhasilan MBG dinilai tidak cukup jika hanya bertumpu pada penyediaan makanan. Dukungan non-materiil, terutama peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang gizi seimbang, dianggap penting agar dampak kebijakan dapat lebih optimal. Edukasi gizi menjadi salah satu kunci, baik melalui pembelajaran formal di sekolah maupun pendekatan di luar ruang kelas.
Data UNICEF tahun 2023 mencatat Indonesia memiliki 72 juta anak, menempatkannya sebagai negara dengan jumlah anak terbanyak ketujuh di dunia. Kondisi ini memperkuat urgensi membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat secara fisik dan mental melalui pendekatan yang sistematis, termasuk di bidang gizi.
Asupan gizi yang tepat pada masa tumbuh kembang berperan dalam perkembangan otak, kemampuan berpikir, konsentrasi, dan pertumbuhan fisik anak. Karena itu, pemenuhan nutrisi yang memadai sejak dini menjadi prioritas.
Juru Bicara BGN, Ikeu Tanziha, menekankan pentingnya pendidikan gizi dalam mendorong kebutuhan anak terhadap nutrisi yang sesuai. “Pendidikan gizi memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan demand anak-anak dalam mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh dan berkembang dengan optimal,” kata Ikeu dalam konferensi pers pada Jumat (18/07).
Salah satu strategi yang dinilai efektif adalah mengintegrasikan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah. Sekolah dinilai menjadi ruang belajar yang terstruktur dan menjangkau anak secara luas, sehingga dianggap ideal untuk memperkenalkan konsep dasar gizi. Dengan integrasi tersebut, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga dapat mempraktikkan pengetahuan itu dalam keseharian, termasuk selaras dengan pelaksanaan Program MBG.
Materi edukasi gizi yang terintegrasi dapat mencakup pemahaman kelompok makanan, ukuran porsi, fungsi zat gizi dalam tubuh, serta dampak pola makan yang tidak sehat. Pendekatan ini diharapkan membantu siswa memahami keterkaitan pola makan dengan kesehatan tubuh dan kualitas hidup.
Meski demikian, Ikeu menyebut pelaksanaan edukasi gizi masih menghadapi tantangan, salah satunya ketimpangan pengetahuan tentang gizi di kalangan pendidik maupun masyarakat. “Edukasi gizi di Indonesia sangat mungkin untuk diterapkan dan diintegrasikan dalam kurikulum sekolah. Namun, saat ini pelaksanaannya masih mengalami kendala, di antaranya karena pengetahuan terkait gizi masih belum merata,” ujarnya.
Sebagai strategi, BGN disebut tengah menggencarkan sosialisasi dan edukasi gizi ke sekolah, pemerintah daerah, hingga komunitas. Kolaborasi dengan kementerian dan lembaga lain juga diperkuat, disertai kampanye edukatif melalui media sosial dengan konten visual dan audiovisual yang ringan namun informatif.

